Saturday, March 27, 2010

Jujur Pada Diri Sendiri, Proses Therapy Perasaan Gak Enakan

Semoga hari yang berhagia ini, semakin menambah nilai-nilai kebaikan bagi kita. Mudah-mudahan setiap detik sejarah telah terukir dalam simpanan energi semesta, Menjadikan kita lebih berkarakter mulia. Diantaranya semakin bertambah kejujuran baik kepada diri sendiri atau kepada orang lain.

Seorang shahabat saya menjadikan “Keputusan yang dibuat manusia / diambil oleh seseorang mempengaruhi kehidupan orang lain” sebagai tema penelitian ilmiahnya. Tema yang sederhana, tapi memiliki makna yang dalam, jika kita kaji dari ranah spiritual.

Tema diatas mengingatkan saya tentang tujuan penciptaan manusia yang Allah terangkan di Al-Baqarah : Kahlifah. Sebagai khalifah wajib menyadari akan keputusan-keputusan yang diambil untuk menyeimbangkan kehidupan dunia.


Sementara itu, saat saya menuliskan note yang sedang anda baca sekarang. Terbesit sesuatu dalam fikiran saya. Itu tatkala merenungi tentang makna kejujuran. Mungkin anda pernah mendengar judul sebuah buku ”Jujur mata uang yang hilang” atau mungkin kata bijak yang lain berhubungan dengan kejujuran.

Sebuah pertanyaan kontemplasi bagi diri, Sudahkah saya jujur?. Saya tidak tau bagaimana dengan prinsip hidup anda. Apakah anda senang dengan kejujuran? Saya yakin dan percaya, kejujuran adalah pengantar kepada pintu kepercayaan.

Berbohong pada diri sendiri

”Hindari bohong, Jujurlah pada diri sendiri”. Nasehat yang saya dapatkan dari Tengku di di menasah saat belajar membaca Al-Qur’an, dan mengaji kitab Masailal Muhtadin dan Tanbiqhul Ghafilin. Bahkan juga diulang-ulang oleh ustaz saya di Ma’had Ruhul Islam.

Ibda binafsik, mulai dari diri sendiri. Pesan Rasulullah untuk melakukan perubahan. Sekarang saya sadari, ini awal dari kemuduran dan gelapnya hati. Demi membahagiakan orang lain, sudi kiranya membohongi diri sendiri. Agar menyenangi teman, rela berkata tidak sesuai dengan hati. Supaya membahagiakan shahabat, mengikhlaskan penderitaan diri.

Bukan persoalan salah dan benar, Melainkan cara menyikapi dan meletakkan sesuatu pada tempatnya. Guru saya di Pondok Pesantren NLP Pasar Minggu. Sering membingkai pembelajaran demikian.

Jujur adalah pintu kesadaran dan hakekat kesuksesan hidup.

Mungkin ”Katakan kebenaran, walau itu pahit (sakit untuk didengar, sulit diterima atau bahkan ditolak)” adalah penjabaran dari anjuran berlaku Jujur pada diri sendiri. Ada hal-hal menarik yang saya temukan, saat membantu shahabat menyelesaikan persoalannya. Yang kini menjadi pembelajaran hidup.

Ada keluhan ingin berlari dari hiruk pikuk tuntutan target pekerjaan. Ada juga seorang bapak-bapak berucap, Saya mau merdeka dari tuntutan orang lain. Pernah juga teman menyampaikan, Aku ingin orang tua mengerti kemauanku. Saya sendiripun dulu pernah bertanya, Sampai kapan saya harus mengikuti kemauan bukan diri saya sendiri.

Seorang wanita tidak mampu menolak menerima calon suami dari ayah ibunya. Pernah juga, seorang teman lelaki, melepaskan wanita yang dicintainya demi membahagiakan ibunya dengan menikahi wanita bukan pujaan hatinya. Tidak sedikit, saya berjumpa dan mendengar curhatan para pekerja, yang beraktivitas bukan pada bidang yang disukainya.

Pakar kejiwaan pernah bertutur ”Orang-orang yang bekerja pada bidang yang dia cintai dan senangi, memiliki kesempatan hidup lebih lama”

Guru saya bapak Noeryanto, Pengasuh Pondok Pesantren NLP Pasar Minggu mengingatkan ”Saat ayam (binatang) memahami kodratnya sebagai ayam, dan manusia memahami kodratnya sebagai manusia (khalifah). Maka keseimbangan alam terjadi. Itulah mamfaat KESADARAN”

Dari kejadian dan peristiwa diatas. Saya menemukan satu hal, bahwa Jujur kepada diri sendiri bisa sebagai proses Therapy Perasaan Gak Enakan.

Sekali lagi, ini bukan persoalan Salah atau benar, melaikan cara menyikapi dan meletakkan sesuatu pada tempatnya. Mungkin, shahabat saya mengambil tema penelitiannya “Keputusan yang dibuat manusia / diambil oleh seseorang mempengaruhi kehidupan orang lain” atas dasar kontemplasi diri yang amat dalam. Terlepas dari itu semua, hadir pertanyaan kontemplasi diri ; Sampai kapan saya berlaku Bohong dan Tidak jujur pada diri sendiri?

Wallahu’alam
RAHMADSYAH, CM.NLP
Motivator & Mind-Therapist I 081511448147 YM;rahmad_aceh
www.facebook. com/rahmadsyah
Bogor 23 Maret 2010

Baca Selengkapnya......

INDAHNYA HARIKU

Ku jelang pagi ini, dengan senyum penuh ketulusan
Kan kujalani hari ini dengan semangat penuh keikhlasan
Mencoba membuka mata, membuka hati, mencoba menguntai kata
Begitu luas hamparan untukku mewujudkan mimpi hati

Biarlah kugantungkan segala asa yang ada pada cakarawala
Biarlah ku jaga rasa cinta yang ada dalam indahnya balutan awan putih
Hingga dengannya kan gapai segala doa
Dan bersamanya hidup semakin ku rasa bahagia

Teduhnya warna biru berhias awan putih tanpa batas
Hijau rumput laksana permadani pelengkap teman mimpi
Canda kicau burung di sela kepakan sayap yang melintas di langit bebas
Bisikan angin yang bertiup begitu memanjakan
Sungguh membuaiku dalam pelukan alam luas

Tuhan ...
Ku bahagia atas nikmat-Mu
Ku bersyukur atas karunia-Mu

Biarlah semua ini tetap bisa kumiliki
Ijinkan semua ini tetap bisa aku nikmati
Karena Kau tau, saat semua itu tak lagi menemaniku
Hariku akan berubah menjadi sepi tanpa arti
-------Catatan Mohammad Zuher-------

Baca Selengkapnya......

Wednesday, March 24, 2010

Fenomena Koruptor Religius

*ADA* fakta ganjil yang sudah lama berlangsung di Indonesia: agama
sering menjadi selimut atau topeng untuk me­nutupi tindakan korupsi.
Misalnya, kaum koruptor tampak rajin melaksanakan ritual agama dengan
melibatkan tokoh-tokoh agama dan masyarakat sekitarnya seperti
menyelenggarakan acara doa bersama atau acara syukuran.

Bahkan, ketika membangun rumah, banyak koruptor yang tidak lupa
membangun tempat ibadah di lingkungan tempat tinggalnya. Jika dicermati
lebih serius, tidak ada koruptor di Indonesia yang tidak beragama.
Karena itu, ada pertanyaan yang layak diutarakan: kenapa seseorang bisa
menjadi koruptor sekaligus rajin beribadah? Adakah hubungan antara agama
dan korupsi?

*Kamuflase *

Bagi kaum moralis, fenomena koruptor yang rajin beribadah mungkin akan
dipandang sebagai bentuk pelecehan terhadap agama. Dalam hal ini, para
ko­ruptor sengaja memfungsikan agama se­bagai kamuflase atas
kejahatannya. Tentu saja, fenomena demikian bukan hal yang aneh dan baru
dalam sejarah agama-agama.

Seperti dalam Islam, sejak awal ma­sa perkembangannya, stigma munafik
te­lah diperkenalkan. Stigma itu diberi­kan kepada orang yang sengaja
mem­fung­sikan Islam hanya sebagai kamu­fla­se. Dalam Islam, orang
munafik di­anggap musuh paling berbahaya ba­gi kaum muslimin. Ibarat
musuh dalam sa­tu selimut yang selalu siap mencela­ka­­kan kapan saja.
Dengan demikian, da­lam Alquran maupun hadis, banyak disebutkan bahwa
kaum munafik ada­lah kaum yang sangat dikutuk oleh Allah SAW.

Jika faktanya sekarang di Indonesia banyak koruptor yang beragama Islam,
agaknya layak diduga, mereka tergolong kaum munafik. Bila mereka per­nah
atau sedang menjadi pejabat-pejabat penting, bangsa dan negara
Indonesia, sepertinya, juga layak ditengarai se­bagai ikut-ikutan
terkutuk, dengan bukti seringnya terjadi bencana atau tra­gedi kemanusiaan.

Banyaknya fakta bahwa para koruptor rajin beribadah, khususnya
menga­da­kan acara doa bersama atau acara syukuran, ada kesan bahwa para
pemuka agama seolah-olah ikut mengamini tindakan korupsi. Kesan tersebut
bisa saja menyakitkan, tapi agaknya tetap layak diungkapkan. Sebab, itu
didukung fakta yang cenderung semakin fenomenal.

Fenomena memfungsikan agama sebagai kamuflase serta kemunafikan para
koruptor sering sangat mudah dilihat setiap menjelang kampanye pe­milu
(dan belakangan pilkada). Misalnya, betapa banyak elite politik yang
terindikasi korup berlomba-lom­ ba merangkul pemuka-pemuka agama. Betapa
banyak elite politik yang terindikasi korup berlomba-lomba memberikan
sumbangan dana pembangunan fasilitas peribadatan atau sarana pendidikan
agama. Dalam hal ini, semua pe­muka agama justru gembira (dan tidak ada
yang keberatan atau sekadar mengkritik perilaku munafik).

Karena itu, wajar-wajar saja jika ada yang bilang bahwa pemuka-pemuka
agama sekarang akan senang-senang saja menerima sumbangan dana meski si
pemberi jelas-jelas seorang koruptor!

*Kontradiksi *

Beberapa tahun lalu, dari lingkungan sebuah organisasi keagamaan, muncul
fatwa bahwa koruptor yang meninggal dunia tidak wajib disalati.
Pasalnya, koruptor identik dengan munafik. Fatwa demikian selayaknya
menjadi otokritik. Sebab, selama ini banyak koruptor yang gemar
mendatangi kiai-kiai untuk memberikan sumbangan dana pembangunan masjid
dan pondok pesantren. Mereka bermaksud mendapatkan dukungan politik dari
kiai dan pengikut mereka.

Adanya fatwa dan perilaku kemunafikan tersebut tentu saja merupakan
kontradiksi yang bisa saja akan membingungkan masyarakat awam. Bagaimana
mungkin pemuka agama bisa akur dengan koruptor?

Dengan demikian, agaknya, juga perlu segera ada fatwa baru untuk
menjelaskan kontradiksi tersebut, agar ke depan tidak semakin
membingungkan masyarakat awam. Sejauh ini, kontradiksi itu memang belum
pernah dikaji secara serius oleh komunitas-komunitas keagamaan di
Indonesia. Bahkan, belum ada pemuka agama yang mempersoalkan kontradiksi
tersebut secara terbuka. Dengan begitu, hal ini pun kemudian mengundang
pertanyaan baru: benarkah telah terjadi kompromi antara koruptor dan
kalangan pemuka agama, karena sebagian hasil korupsi digunakan untuk
mendanai kepentingan pengembangan agama?

*Revitalisasi Agama *

Fenomena semakin merajalelanya korupsi cenderung dibiarkan oleh
pemuka-pemuka agama karena, sepertinya, telanjur dianggap bukan masalah
yang perlu dipersoalkan lagi. Jika kini sejumlah perangkat hukum yang
ada tidak bisa memberantasnya, sepertinya, perlu dilakukan upaya-upaya
alternatif. Misalnya, melakukan revitalisasi agama oleh kalangan pemuka
agama. Langkah-langkahnya sebagai berikut. Pertama, memandirikan semua
organisasi keagamaan di Indonesia dengan menerapkan sikap tegas untuk
tidak menerima sumbangan dana dari pihak-pihak yang terindikasi korup.

Kedua, pemuka-pemuka agama menolak terlibat dalam politik praktis dengan
cara tidak bergabung atau sekadar bersimpati kepada kekuatan politik
yang korup. Dalam hal ini, pada saat menjelang pemilu atau pilkada,
pemuka agama harus netral dan tidak mendukung secara langsung maupun
tidak langsung yang menguntungkan para koruptor.

Ketiga, mengembangkan sikap kritis masyarakat terhadap indikasi-indikasi
korupsi agar tidak memberikan dukungan politik kepada siapa pun yang
terindikasi korup.

Keempat, pemuka agama serta umat beragama segera memutuskan hubungan
dengan semua pejabat negara yang terindikasi korup. Dalam hal ini,
menolak tegas undangan doa bersama atau acara syukuran yang
diselenggarakan oleh pejabat negara yang terindikasi korup. Dengan cara
demikian, ada kemungkinan kaum koruptor tidak semakin ugal-ugalan
menjadikan agama sebagai kamuflase.

Dengan revitalisasi agama, fenomena koruptor tampak religius yang
identik dengan merajalelanya kaum munafik dalam melakukan korupsi
berjamaah mungkin akan segera dapat dikikis habis. (*)

* /*). Anita Retno Lestari/ * /, direktur Lembaga Studi Humaniora/


Baca Selengkapnya......

DINDING YANG KOSONG

.... kisah yang sangat layak untuk disimak Ada dua orang pasien pria yang menderita sakit parah. Mereka dirawat di rumah sakit yang sama. Pria pertama diizinkan duduk di tempat tidurnya setiap sore selama satu jam. Tujuannya adalah agar cairan dari paru-parunya bisa dikeluarkan.

Tempat tidurnya terletak di dekat satu-satunya jendela yang ada di kamar itu.

Sedang pria yang kedua harus selalu berbaring dalam keadaan terlentang. Karena di antara dua tempat tidur ada dinding pemisah yang cukup tinggi, pria yang tidur terlentang tidak bisa melihat ke jendela.

Kedua orang pria tersebut sering mengobrol. Macam-macam hal yang mereka bicarakan. Dari mengenai istri, keluarga, rumah, pekerjaan, wajib militer sampai tempat-tempat yang dikunjungi saat liburan.

Sore hari, saat pria yang menempati tempat tidur dekat jendela diizinkan duduk, dia bercerita ke teman sekamarnya. Ia melaporkan apa-apa yang dilihatnya di balik jendela.

Pria yang hanya bisa terlentang lama-kelamaan bisa menikmati cerita temannya. Selama satu jam sehari, cara pandangnya diperluas dan dihidupkan kembali dengan mendengarkan tentang kegiatan dan warna-warni dunia luar. Jendela itu menghadap ke sebuah taman.

Di taman itu juga ada sebuah danau yang indah dengan bebek-bebek dan angsa-angsa yang berenang di atasnya. Anak-anak bermain dengan mainan kapal layarnya.

Pasangan suami isteri yang sedang dimabuk asmara berjalan sambil bergandengan tangan di antara bunga-bunga yang berwarna-warni bagaikan warna pelangi. Beberapa pohon besar tumbuh di atas rerumputan. Pemandangan indah kota terlihat dari kejauhan.

Pria yang berada di dekat jendela menceritakan semua ini dengan amat rinci. Pria yang mendengarkan, menutup matanya sambil membayangkan pemandangan- pemandangan yang dituturkan rekannya.

Di suatu hari yang cukup terik, pria yang menempati tempat tidur dekat jendela melaporkan tentang sebuah pawai yang lewat di sana.

Pria yang kedua tidak bisa mendengar musik bandnya. Namun, dia bisa melihat mereka dengan mata batinnya. Ia seakan melihat badut-badut yang menari-nari, bendera yang berwarna-warni serta mobil dan kuda yang dihias.

Hari pun berlalu. Di dalam hati pria yang tidak bisa melihat ke jendela diam-diam timbul rasa iri atas cerita-cerita yang disampaikan oleh teman sekamarnya, karena dia ingin sekali melihat sendiri semua yang diceritakannya.

Dia pun mulai membenci teman sekamarnya, karena dia ingin sekali melihat sendiri semua yang diceritakannya. Dia pun mulai membenci teman sekamarnya dan merasa frustasi. Dia juga ingin menempati tempat tidur di dekat jendela!

Pada suatu pagi seorang juru rawat masuk ke kamarnya. Pria yang ditempatkan di dekat jendela ditemukan meninggal dengan tenang pada saat tidur. Dengan rasa sedih dia memanggil pegawai rumah sakit untuk memindahkan jenazahnya.

Setelah dianggap tepat waktunya, pria yang masih dirawat menanyakan apakah dia bisa dipindahkan ke tempat tidur dekat jendela. Perawat tidak berkeberatan untuk memindahkannya dan setelah yakin pasiennya dalam posisi yang aman, dia meninggalkannya sendirian.

Pelan-pelan, sambil menahan rasa sakit, dia berupaya mengangkat tubuhnya dengan satu siku lengannya untuk melihat pertama kalinya dunia di luar jendela. Ia pikir, akhirnya dia bisa juga menikmati kebahagiaan saat melihat taman di luar dan semua kegiatan yang ada. Dia berusaha untuk melongok..

Namun ia menjadi amat terkejut karena ternyata yang dilihatnya hanya dinding yang kosong. Dia segera memanggil suster dan bertanya, “Bagaimana teman sekamar saya bisa melihat semua yang diceritakannya kepada saya? Bagaimana dia bisa menceritakan kepada saya tentang segala keindahan sampai yang sekecil-kecilnya, padahal saya hanya melihat dinding batu bata yang kusam!

”Perawat itu menjawab, “Lho, memang Bapak tidak tahu? Mantan teman sekamar Bapak kan buta, jadi dinding pun tidak mungkin bisa dilihatnya.” Kemudian sang perawat menambahkan, “Mungkin dia hanya ingin membesarkan hati Bapak saja.

”Apakah Anda bisa merasakan emosi yang terkandung dalam cerita ini?

Apakah pernah terpikir oleh Anda untuk menukar posisi Anda dengan posisi orang lain karena merasa iri kepada orang tersebut.

Apakah Anda pernah merasa demikian kecewa,misalnya Anda menyangka sesuatu itu begitu indah, tetapi kenyataannya tidak seperti yang Anda bayangkan?

Apakah Anda pernah diberi kata-kata pemberi semangat, tetapi Anda tidak pernah mau mensyukurinya?

Kalau hidup Anda terobsesi oleh segala yang dimiliki orang lain, maka Anda tidak merasakan indahnya hal-hal yang akan diberikan oleh orang lain kepada Anda.

Di zaman sekarang ini banyak sekali orang yang ingin memiliki apapun yang dimiliki orang lain. Ingin suami atau istri seperti yang dimiliki orang lain, ingin pekerjaan seperti pekerjaan orang lain, ingin penghargaan seperti yang telah diterima orang lain, ingin popularitas seperti yang diraih oleh orang lain, rumah yang dimiliki orang lain, posisi yang dimiliki oleh orang lain.

Sering pula mereka ingin hal-hal yang mereka anggap ada di dalam diri orang lain. Misalnya, kebahagiaan, rasa memiliki tujuan, kedamaian pikiran, rasa cinta dan kenyamanan. Yang sebenarnya adalah bahwa di setiap situasi pasti ada masalah, di setiap kehidupan pasti ada rintangan, di setiap hubungan pasti ada kesulitan, di setiap kesempatan pasti ada tantangan atau masalah yang berat.

Pada dasarnya, pada setiap aspek yang positif selalu ada tandingannya yang bersifat negatif. Karena itu, tidak mungkin ada orang yang bebas dari masalah kehidupan.

Kalau begitu, bagaimana sikap kita dalam menghadapi hal ini?#

Jadilah orang yang PANDAI BERSYUKUR untuk apa yang SUDAH ANDA MILIKI saat ini.#

Bersikaplah POSITIF atas semua keadaan, karena KEBAHAGIAAN itu BUKAN DI LUAR DIRI tetapi ADA di DALAM DIRI. (Dari buku ‘Piano on the Beach’ karangan Jim Dornan)
Sent from my BlackBerry®

Baca Selengkapnya......

Tuesday, February 23, 2010

KEMERDEKAAN YANG BERAQIDAH

Awalnya kata Merdeka berasal dari bahasa Sansekerta “Mahardhika” berarti sangat berjaya, berkuasa atau bijaksana. Dalam bahasa jawa kuno arti kata ini bergeser sedikit dan bermakna bijaksana, pandai, terhormat, pendita dan tidak tunduk pada seseorang selain kepada Tuhan atau Raja, maka mulai berarti bebas. Dan dalam bahasa Melayu “Merdika” memperoleh arti bebas, maksudnya bukan budak. Demikian juga J. Gonda dalam Sanskrit in Indonesia, mengungkapkan bahwa Merdeka berarti lepas dari segala ikatan yang tidak layak (unsur negatif), sehingga menjadi bebas untuk menentukan nasib sendiri demi sesuatu yang baik (unsur positif). Sehingga Kemerdekaan bias diartikan sebagai kebebasan.
Kebebasan adalah anugerah dan sekaligus ciri kemuliaan manusia diantara seluruh makhluk Tuhan. Kebebasan merupakan suatu gagasan / konsep yang analog, artinya kebebasan direalisasikan secara fundamental berbeda menurut tingkat keberaaan (manusia, binatang, dll).


Kebebasan sendiri mempunyai arti keadaan bebas. Dalam Kamus Bahasa Indonesia kata dasar dari kebebasan mengandung beberapa makna, yaitu :
1.Lepas sama sekali (tidak terhalang, terganggu, dsb sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat, dsb dengan leluasa).
2.Lepas dari (kewajiban, tuntutan, perasaan, takut dsb).
3.Tidak dikenakan (pajak, hukuman, dsb).
4.Tidak terikat atau terbatas oleh aturan-aturan dsb.
5.Merdeka (tidak dijajah, diperintah atau dipengaruhi oleh Negara lain atau kekuatan asing)
6.Tidak terdapat (didapati) lagi

Arti kebebasan dapat dirumuskan secara negative dan positif :
a.Dalam arti negatif berarti bebas dari, misalnya bebas dari ikatan atau paksaan untuk bertindak, yang mengikat / memaksa itu dapat bersifat lahiriah atau materiil (mis. Belenggu) atau dapat bersifat batiniah atau psikologis (mis. Ancaman berat). Kebebasan psikologis atau berkehendak mengatakan bahwa manusia “mampu berkehendak seperti ia kehendaki”, maksudnya kehendak manusia dapat bertahan melawan halangan, paksaan ataupun larangan, sekurang-kurangnya dengan tidak berbuat .
b.Dalam arti positif manusia adalah “bebas untuk” berbuat sesuatu dan khususnya “bebas untuk berbuat baik”.

Kebebasan adalah suatu kemampuan positif, sehingga manusia dengan berbuat dan khususnya dengan berbuat baik (sekurang-kurangnya tidak berbuat jahat) merealisasikan diri menjadi orang yang baik. Inilah tanggung jawab manusia yang utama. Inilah tugas pokoknya. Inilah arti hidup manusiawi. Maka kebebasan untuk berbuat sesuai dengan keyakinan mengenai yang baik dan yang buruk adalah suatu hak asai manusia (kebebasan mengikuti suara hati), yang tidak diberi dan tidak dapat dicabut oleh orang lain, bahkan Negara pun tidak.
Indonesia merupakan Negara hukum. Maka kebebasan seorang warganegara Indonesia tidak boleh dibatasi oleh siapapun termasuk alat-alat pemerintahan selain dalam batas hukum yang berlaku. Azas kebebasan yang menjamin hak-hak dasar para warganegara dijamin oleh UUD 1945 pasal 27-29. walaupun dalam pasal-pasal tersebut hanya beberapa hak dasar ditentukan, namun kebebasan dalam Negara Pancasila harus disadari dan dijamin oleh Sila Perikemanusiaan dan Sila Keadilan. Sebab, UUD 1945 mendasarkan juga kebebasan internasional atas dua sila tersebut : “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan per-keadilan”.
Perlu dipahami bahwa nilai yang paling hakiki bagi manusia, adalah kebebasan. Dan kebebasan itu pula yang membedakan manusia dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Akal pikiran sebagai anugerah dan aset Illahiyah menyebabkan manusia mempunyai kebebasan, sebuah ciri yang khas dari makhluk lainnya. Dalam Al-Qur’an Surat Al Ma’idah ayat20 dijelaskan :

“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat lain”.

Hanya saja, banyak orang tidak memahami, dan tidak mengerti secara mendalam hakekat kebebasan tersebut. Mereka menganggap bahwa kebebasan berarti “lepas tanpa ikatan”, sesuatu yang keluar begitu saja, tanpa merasa ada kendala apapun. Sehingga dia boleh semaunya bertindak dan berbuat hanya mengikuti kemauannya sendiri (gugu karepe priyangga / sak karepe udele).
Kebebasan tanpa keterikatan, sama saja dengan binatang yang bergerak lepas menurut insting atau naluri alamiahnya, berbuat sebagaimana adanya, tanpa merasa terikat, tidak mempunyai akal pikiran, tidak mampu membedakan benar dan salah atau rasa susila. CEM. Joad dalam bukunya Philosophy mengatakan “Everything and every creature in the world expect man acts as it must, or acts as it pleases; man alone acts on occasion as ought”(Segala sesuatu serta makhluk yang diciptakan di dunia ini, selain manusia, bertindak sebagaimana yang diharuskannya atau bertindak menurut kesenangannya, sedangkan manusia sajalah yang bertindak sebagaimana seharusnya).
Dengan demikian, manusia menjadi manusia karena keterikatannya dan sekaligus mampu mengendalikan dan mengerti keterikatannya tersebut. Jean Jackues Rosseau mengungkapkan “ Manusia dilahirkan merdeka (bebas), tetapi dimana-mana dia terbelenggu”. Dalam hal ini, yang kita maksudkan dengan belenggu atau keterikatan tidak lain adalah tanggung jawab.
Pokoknya, manusia disebut bebas selama dia terikat, ada komitmen untuk bertanggung jawab. Winston Churchill (1874-1965) negarawan inggris, seorang orator ulung, berkata : “The prince of greatness is responsibility” (mahkota kebesaran adalah tanggung jawab). Manusia tidak mungkin melepaskan diri secara bebas dari berbagai kondisi yang mengikat dirinya, apakah dalam bentuk kondisi biologis, sosiologis, terlebih lagi ikatan kondisi theologies, keyakinan dan keimanan. Karena manusia pada dasarnya adalah makhluk Illahi yang sadar akan keIlahiannya.
Harus dipahami bahwa sisi lain dari makna tanggung jawab adalah bentuk keterikatan manusia di tengah-tengah keberadaannya di dunia. Tetapi janganlah digambarkan bahwa terikat itu seperti seorang pesakitan atau penjahat yang diborgol tangannya.
Yang dimaksud dengan keterikatan di sini, adalah kesadaran manusia atas keterbatasannya. Dia sadar bahwa ada batas-batas yang menyempitkan ruang geraknya, kemauannya, ambisinya dan impiannya. Tetapi dia juga sadar bahwa keterbatasannya tersebut harus diatasi, diarahkan serta dihayati dalam misinya untuk mengisi dan memberi makna hidupnya yang sejati.
Manusia yang bertanggung jawab merasakan bahagia justru karena ada ikatan. Ada komitmen atau dalam istilah agama dikenal sebagai aqidah (aqad = keterikatan, janji, kesepakatan) yang melahirkan berbagai kaidah kehidupan yang mengatur manusia agar dia mampu hidup selaras, serasi dan sehati dengan orang lain.
Dia sadar bahwa dengan adanya ikatan itulah, justru dia merasa menjadi manusia. Dia sadar bahwa dirinya bukanlah binatang yang bebas untuk bebas, melepaskan segala hajat tanpa ada ikatan, tanpa merasa ada sanksi atau kendali-kendali moral. Manusia memang bebas untuk menyatakan kemamuannya, tetapi tentu saja dia pun sadar bahwa dia tidak bisa berbuat semau-maunya. Karena adanya keterbatasan yang membawa resiko kepada dirinya tersebut.
Makna kebebasan sejati mengantongi kewajiban-kewajiban serta tanggung jawab yang membedakan diri manusia dari segala makhluk yang ada. Binatang tidak mengenal kewajiban, karenanya tidak mempunyai tanggung jawab. Seluruh tindakannya adalah insting, sebuah tindakan alamiah, bukan sesuatu yang disengaja, bukan tindakan yang diarahkan secara sadar oleh pikiran dan segenap hati nuraninya. Karena binatang tidak dilengkapi potensi tersebut.
Dalam Islam telah jelas bahwa manusia dipersilahkan untuk menggunakan anugerah kebebasan untuk mencari apa yang telah menjadi karunia Allah di muka bumi ini, setelah manusia tersebut menjalankan kewajibannya beribadah kepada sang Pencipta. Al-Qur’an Surat Al-Jumu’ah ayat 10, memaparkan hal tersebut :


“Apabila telah ditunaikan Shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya beruntung”.

Dengan demikian, makna kebebasan ini berakar dalam kebebasan rohani manusia yaitu sejauhmana dia mampu menguasai dan patuh terhadap hati nuraninya sendiri, terhadap pikiran dan kehendaknya. Seseorang bisa merasakan kebebasan, selama dia bebas untuk menentukan sikap dan tanggung jawabnya. Dia menjadi bebas karena setiap keputusan, pikiran dan tindakannya berasal dari jeritan nuraninya yang kemudian dia nyatakan dengan sadar, tidak dibuat-buat (artificial). Frederick Nietzche, mengatakan : “If you would go high, use your own legs. Do not let your selves be carried up, do not sit on the backs and heads of others” (Kalau ingin menjulang tinggi, gunakanlah kakimu sendiri. Jangan biarkan dirimu dijunjung orang, jangan kau duduk di atas punggung dan kepala orang lain.
Akar kebebasan adalah kemampuan manusia untuk menetukan dirinya sendiri. Kemampuan mengambil tempat dan mengambil keputusan-keputusan tanpa merasa ada hambatan atau tekanan dari pihak luar.

*********

Baca Selengkapnya......

Ekspresikan Dirimu Dengan Organisasi

“Ingatlah selalu bahwa kamu tidak hanya mempunyai hak untuk menjadi seorang individu.
Adalah tugasmu untuk menjadi seseorang “
(Eleanor Roosevelt)

Perumpamaan yang pas tentang pentingnya berorganisasi / berjama’ah pernah disampaikan Rasulullah saw. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi dari Muadz bin Jabal, beliau bersabda, ”Sesungguhnya setan itu serigala bagi manusia, seperti serigala bagi kambing, ia akan menerkam kambing yang keluar dan menyendiri dari kawanannya. Karena itu, jauhilah perpecahan, dan hendaklah kamu bersama jama’ah dan umat umumnya.”
Dari kedua ungkapan diatas bisa ditarik garis merah, bahwa setiap individu harus bisa menjadi diri kita sendiri, tidak harus dengan cara egois. Tapi potensi yang kita miliki akan lebih baik jika ditumpahkan dalam sebuah wadah jama’ah atau yang biasa disebut organisasi. Sehingga apa yang kita miliki akan dapat dilengkapi dengan ilmu dari orang lain. Dengan kata lain kita dapat menunjukkan kemampuan yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada kita semua, dengan cara mengekspresikan potensi yang ada dalam berbagai organisasi.

Untuk mengekspresikan diri diorganisasi tidak cukup dengan hanya kita nibrung sejenak, datang jika kita sempat dan datang jika ada kegiatan besar. Tapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengekspresikan diri diorganisasi, antara lain:
1.Menata Niat
Ada sebuah Hadits Nabi yang menyatakan bahwa segala amal perbuatan tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang diniatkannya. Setiap amal yang baik dan bermanfaat, apabila dilakukan dengan niat yang baik disertai dengan keikhlasan, mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala akan menjadi suatu ibadah. Begitu juga dalam berorganisasi sangat perlu kita menata niat, untuk apa kita terjun dalam organisasi yang kita inginkan. Karena niat tersebut secara tidak langsung akan mempengaruhi kinerja dan loyalitas dalam berorganisasi.
2.Bidik Tujuan
Tujuan merupakan sesuatu yang ingin dicapai yang bermanfaat bagi peningkatan kualitas. Dalam menentukan tujuan dalam berorganisasi kita harus memperhatikan sistem SMART, yaitu :
Specific (spesifik), dimana harus menggambarkan secara tepat tujuan yang ingin dicapai.
Measurable (dapat diukur), setiap tujuan yang ditetapkan bisa dicapai dengan memonitor langkah prosesnya.
Attributable (sikap), punya sikap dalam meraih tujuan. Fokuskan tujuan itu dengan meluangkan waktu untuk mencapainya.
Realistic (realistis), pastikan tujuan itu realistis bukan hanya sekedar angan-angan.
Time Limit (batas waktu), tentukan batas waktu kapan ingin mencapai tujuan tersebut.
3.Mengendalikan Diri
Dengan niat dan tujuan yang bersifat pribadi, maka untuk terjun ke organisasi sangat perlu kita mengendalikan diri. Prinsip utama yang perlu kita perhatikan untuk belajar melakukan kendali diri adalah prinsip untuk hidup seimbang. Orang yang hidupnya seimbang adalah orang yang bisa mengendalikan aspek emosi, aspek pikiran, dan aspek fisik. Agar usaha pengendalian emosi, pikiran, dan fisik berhasil maka kita perlu menerapkan strategi kendali diri sebagai berikut :
Disiplin Diri
Jika kita sudah mampu mendisiplinkan diri kita sendiri, maka dengan sendirinya kemampuan kita akan lebih baik. Kita pun bisa lebih baik dalam mengatur waktu untuk beraktivitas diorganisasi lebih cerdas.
Motivasi Diri
Dorongan atau motivasi dari dalam diri sendiri muncul karena keinginan ataupun harapan yang kuat untuk meraih sukses. Jadi, temukan harapan atau keinginan yang kuat, yang pencapaiannya bisa membuat kita menitikkan air mata bahagia.
Dorongan atau motivasi dari luar bisa datang dari seseorang / orang lain, dari sebuah peristiwa ; kegagalan, kesuksesan.
Percaya Diri
Jika kita sendiri tidak percaya bahwa kita mampu berorgaisasi, bagaimana kita bisa meyakinkan orang lain untuk ikut mendukung dalam organisasi. Pada saat orang lain percaya kepada kita, maka akan mudah bagi kita untuk membangun kerja sama dalam berbagai hal. Rasa percaya diri bisa kita pupuk dengan melakukan perencanaan yang tersusun secara sistematis, kita juga bisa meningkatkan kepercayaan diri dengan senantiasa mengembangkan kemampuan.
Pengembangan Diri
Keinginan untuk selalu mengenbangkan diri, merupakan salah satu faktor kunci dalam memupuk kemampuan kita mengendalikan diri. Yang terpenting kita harus selalu mengembangkan diri secara terus menerus agar bisa memupuk rasa percaya diri yang tinggi, dan membuat orang menaruh kepercayaan. Banyak sekali sumber yang bisa kita manfaatkan untuk mengembangkan diri, kita bisa belajar dari pengalaman diri sendiri dan pengalaman orang lain.

4.Lalui Setiap Proses Yang Terjadi
Dalam berorganisasi hendaknya kita harus masuk dalam sistem dan siap mengikuti segala proses yang ada, jangan sampai kita melawan proses atau berhenti ditengah proses. Karena jika itu terjadi, apa yang sudah kita niatkan, yang sudah kita bidik tujuan dan pengembangan diri akan sia-sia belaka tanpa hasil apapun. Ikuti prosesnya dari awal hingga akhir. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam berproses diorganisasi, yaitu :
Mulai dari bawah
Dalam melakukan segala hal kita harus melalui awalan atau dari bawah. Jadi dalam berorganisasi juga kita harus bisa melalui proses dari bawah. Maksudnya kita harus paham seluk beluk kegiatan / tugas mulai dari tingkat bawah. Dengan demikian jika nantinya kita berada dipucuk pimpinan tidak akan seenaknya terhadap tugas dibawah, karena kita sudah tahu lika-liku, susah payahnya tugas di bawah. Misalnya mulailah dengan tugas yang kecil dan remeh tapi sangat berpengaruh pada roda organisasi, contohnya menjadi kurir undangan.
Ikuti aturan main
Setiap lembaga, organisasi, atau wadah apapun pasti mempunyai aturan dan prosedur dalam menjalankan kegiatan. Jadi, sebagai orang yang aktif dalam organisasi hendaknya kita harus mematuhi aturan / tata tertib yang ada dalam organisasi tersebut. Karena jika demikian, kita akan dapat melaksanakan segala potensi yang kita miliki dengan leluasa tanpa ada hambatan apapun. Lain halnya jika kita menyalahi aturan, maka apa yang kita miliki tidak akan berharga di hadapan anggota organisasi.
Akui perbedaan
Kita masuk dalam organisasi, awalnya adalah seorang individu, namun jika sudah didalam organisasi identitas kita sebagai individu harus ditanggalkan, karena dalam berorganisasi adalah peleburan setiap individu menjadi kesatuan yang sangat kokoh. Apa yang kita bicarakan bukan hanya kepentingan pribadi kita sendiri tapi sudah menyangkut kepentingan semua anggota organisasi. Maka dalam berorganisasi kita harus bisa menerima dan mengakui perbedaan yang ada, karena dengan perbedaan tersebut akan muncul berbagai macam pandangan yang bisa sebagai modal untuk kelangsungan kegiatan dalam berorganisasi.
5.Terus Ekspresikan Diri Dalam Organisasi
Setelah kita lalui semua hal diatas, maka secara tidak langsung kita sudah dapat mengekspresikan diri diorganisasi. Dengan demikian kita sudah menancapkan satu modal dalam diri kita untuk menambah potensi diri dibidang organisasi. Secara tidak langsung potensi diri kita tersebut akan diperhatikan oleh banyak kalangan, sehingga banyak orang yang menilai lebih terhadap kemampuan kita. Maka bersiap-siaplah untuk menjadi orang yang sangat dibutuhkan oleh orang lain. Jika anda sudah selesai melaksanakan amanah dalam satu organisasi maka lanjutkan pengalaman tersebut untuk pengembangan organisasi yang lain. Feel The Passion.

Baca Selengkapnya......

Thursday, December 24, 2009

OTAK KANAN

Banyak persoalan hidup ternyata tidak semua disikapi dengan marah, jengkel, stress. Namun banyak pula inspirasi dari kondisi tersebut. Tidak semua orang menyangka kendala menjadi peluang. Jika persoalan meningkat bagi orang berotak kanan menjadi peluang. Persoalan hi...dup hanyalah teman pemberi inspirasi. Kehidupan manusia sebagian besar didominasi oleh otak kiri. Namun bukti mengatakan banyak persoalan hidup tidak cukup diselesaikan dengan mengandalkan otak kiri. Kita lupa dengan otak kanan. Selama ini pendayagunaan otak manusia hanyalah otak kiri.

Sementara ada bagian otak kanan cenderung terabaikan. Dari otak kanan munculah kecerdasan, yaitu enam kecerdasan. Seperti apa dan bagaimana otak kanan ? Di masa mendatang, tampaknya generasi anak bangsa selain menguasasi otak kiri juga perlu melengkapi dan dilengkapi dengan enam kecerdasan. Keenam kecerdasan ini digali dari potensi otak kanan. Keenam kecerdasan tersebut dinamakan high concept, high touch mampu mengembangkan sebuah pemikiran dalam masyarakat sungguh-sungguh baru. Keenam kecerdasan tersebut digagas oleh Daniel H. Pink. Dalam bukunya berjudul “Misteri Otak Kanan Manusia” diuraikan tentang keenam kecerdasan tersebut. Kecerdasan “tidak hanya fungsi tetapi juga DISAIN.” Kecerdasan ini bukan hanya menempatkan suatu penciptaan produk berdasar fungsinya semata tetapi juga memiliki nilai “value” personal, indah sedikit fantastis, serta memiliki emosional kuat. Seperti: menjual sepatu tetapi dengan lukisan tangan. Kecerdasan “tidak hanya argument namun juga CERITA.” Kemampuan analisis sebagai dasar memberi argumentasi kurang memadai tetapi perlu kemampuan menciptakan kisah-kisah menarik dalam konteks komunikasi persuasi. Kemampuan mengemas menjadi cerita menarik sangat dibutuhkan. Bukti: maraknya novel-novel dengan kekuatan cerita si penulis “meledak” Kecerdasan “tidak hanya fokus tepapi “SIMPONI.” Masa mendatang selain perlu untuk konsentrasi terhadap suatu hal tertentu perlu dilengkapi hal lain. Hal lain adalah kemampuan untuk mengkoneksikan berbagai hal baik memang memiliki hubungan dekat maupun hubungan jauh. Dari sini didapat suatu sudut pandang secara menyeluruh. Dan kemampuan mengkombinasikan berbagai hal. Seperti: penciptaan suatu produk dengan menggunakan bahan baku yang tidak lazim. Bakpo berbahan ketela. Kecerdasan “tidak hanya logika tetapi juga EMPATI.” Kepintaran manusia merupakan hal penting dalam kehidupan modern. Kemampuan berlogika mutlak dibutuhkan. Tetapi di era baru ini, kepedulian terhadap orang lain menjadi hal tidak kalah penting. Di tengah kemampuan logika namun sisi keberpihakan kepada orang-orang “lemah, kecil, dan papa” pelu di sosialisasikan. Misal: gerakan koin Prita terus menggelinding. Kecerdasan “tidak hanya keseriusan namun juga PERMAINAN.” Etos kerja berpengaruh terhadap produkstifitas. Namun jika etos kerja mengabaikan penurunan ketegangan berproduktif maka hasilnya kontraproduktif. Keseriusan perlu untuk mencapai produktifitas kerja namun perlu diimbangi dengan bersikap tenang, humor, permainan. Hal tersebut mempu memompa kesejahteraan. Perlu sedikit keluar dari rutinitas pekerjaan untuk mengendorkan ketegangan otak, hati dan emosi. Butki: jumlah orang mengalami ketegangan pikiran, stress terus meningkat. Kecerdasan “tidak hanya akumulasi tetapi juga MAKNA.” Kemajuan peradaban di tandai dengan penciptaan aneka kebutuhan hidup manusia. Semua itu bertujuan mempertahankan hidup dan kehidupan. Dari sekian banyak hal keberanian, kerelaan serta untuk memenuhi kebutuhan kebermaknaan tidak dapat dikesampingkan. Selain kebutuhan materi juga kebutuhan spiritual dan transendental menjadi hal penting di tengah arus modernitas. Contoh: meningkatnya jumlah orang bunuh diri termasuk generasi anak bangsa karena hanya lupa ada kekuatan transendetal. Makin disadari bahwa otak kiri manusia sangat terbatas untuk memandang keseluruhan dinamika perdaban. Kesadaran untuk membangunkan otak kanan perlu segera dimulai. Generasi anak bangsa perlu sesegera mungkin diperkenanl dan dilatihkan “membangunkan otak kanan.” Goalnya karakter bangsa terbangun oleh para generasi anak bangsa berotak kanan.

Baca Selengkapnya......

Thursday, September 17, 2009

MENJADI TERBAIK DENGAN MANFAAT

Sebaik-baik umat adalah yang bermanfaat. apa yg anda pikirkan ketika membaca atau mendengar kalimat tersebut?. sebuah kalimat yang tidak asing bagi orang islam. ya itu adalah hadits Rasulullah. kalau kita artikan maka, umat yg terbaik adalah umat yg mempunyai manfaat, atau kl pingin jadi yg terbaik maka berikanlah manfaat, dengan kata lainnya adalah MENJADI TERBAIK DENGAN MANFAAT. tentu saja yang namanya bermanfaat adalah orientasi umum.
terus refleksi dalam kehidupan kita apa?. hemm, ini yang menarik untuk kita bahas bersama.



Refleksi untuk pribadi
semangat "menjadi terbaik dengan manfaat" kalau direfleksikan untuk pribadi, maka bila kita menginginkan menjadi orang yg berhasil/terbaik berikan manfaat diri ini sebanyak mungkin untuk orang lain. semakin kita banyak memberikan manfaat, kita akan menjadi yang terbaik. kepercayaan, rasa hormat, banyak teman, wibawa, itu semua adalah hasil dari kemanfaatan yang kita berikan. dan yang luarbiasa meskipun kelak kita sudah meninggal, kita tetap dikenang, dipuji, didoakan oleh orang2, karena mereka merasakan kemanfaatan kita, bahkan kemanfaatan kita akan semakin tinggi walaupun sudah pensiun/meninggal. bung karno, bung tomo, dan pak noer (mantan gubernur jatim) mereka adalah contoh pribadi yg terbaik karena manfaat mereka. bung karno semasa hidupnya beliau berpikir keras dan bertindak hanya untuk kemanfaatan bangsa ini. karena kemanfaatannya beliau menjadi terbaik, dengan diangkat menjadi presiden RI yg pertama. apakah setelah bung karno meninggal kemanfaatannya menurun?oh tidak, malahan semakin tinggi. terbukti banyak partai maupun orang yg memakai dan mengagumi pemikirannya. demikian juga dengan pak noer. meskipun beliau sdh pensiun dan tua, tp kemanfaatanya semakin tinggi dibandingkan sblm pensiun. beliau msh bs diajak diskusi, aktif organisasi, meskipun sebagai penasehat. msh sering datang keacara-acara peresmian. pak noer juga msh dipandang berpengaruh dlm peta politik, dengan bukti dikunjungi cagub dan capres. kl dalam agama islam contoh yg pas adalah pribadi yg bernama Muhammad. semasa hidupnya beliau selalu memberikan manfaat untuk orang lain dengan berdakwah. sehingga beliau menjadi pribadi yg terbaik, dikenal dan dikenang sempai abad ini bahkan beliau di urutan pertama org yg berpengaruh sepanjang masa. oleh karena itu bila kita ingin menjadi pribadi yg terbaik, berikanlah manfaat sebanyak mungkin kepada orang lain. berpikir, bertindak, dan berbicara hanya yg bermanfaat untuk orang lain.
itu adalah refleksi semangat "MENJADI TERBAIK DENGAN MANFAAT" untuk pribadi. bagaimana kalau diterapkan dalam bisnis kita????
next script....
Fredy Prasetyo Wibowo

Baca Selengkapnya......

Sunday, September 6, 2009

Memberi dengan Cinta, bukan dengan pamrih

Banyak orang mengeluh bahwa mereka hanya MEMBERI MEMBERI MEMBERI dan tidak pernah menerima apapun.

Jika Anda 'memberi' dan tidak 'menerima', bisa jadi karena Anda mengharapkan balasan. Lain kali, jika memberi sesuatu, tengoklah kembali motif yang Anda miliki. Apakah Anda memberi dengan tulus? jika tidak cobalah!

Saat Anda memberi tanpa mengharapkan balasan apapun, kehidupan akan menyirami serta menyuburkan Anda dengan banyak kesempatan.

Bukankah doa orang yang terkena bencana, teraniaya, yatim, fakir dan miskin akan dikabulkan oleh Allah SWT. Doa mereka adalah penjaga diri dan keluarga kita dari mara bahaya.

Maka ikhlaslah....Berilah manfaat kepada banyak orang....Biarkan Allah, Rasul dan orang-orang beriman melihat pekerjaan kita.


Salam sukses dan bermanfaat.....

Budi Wahyu Mahardhika
www.snfconsulting.com

Baca Selengkapnya......

SEBUAH PENSIL

Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat .

"Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?" Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, "Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai." "Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti" ujar si nenek lagi.



Mendengar jawab ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai. "Tapi nek sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya." Ujar si cucu. Si nenek kemudian menjawab, "Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini." "Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini." Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.

"Kualitas pertama, pensil mengingatkan kamu kalo kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya" .

"Kualitas kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik".

"Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar"..

"Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu".

"Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan".



(by Paulo Coelho)

Salam Inspirasi



Irawan Senda
www.motivasihidup.com

Baca Selengkapnya......