Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Fuad Hassan ketika dimintai
pendapatnya tentang perkembangan pendidikan Indonesia pernah berkata.
Jangan terlalu ribut soal kurikulum dan sistemnya. Itu semua bukan
apa-apa, justru pelaku-pelakunya itulah yang lebih penting
diperhatikan, Sebagai mantan Mentri Pendidikan beliau tentu sadar
betul bahwa kualitas gurulah yang justru menjadi permasalahan pokok
pendidikan dimana pun. Baik itu di Indonesia, di Jepang, Finlandia, di
AS, di manapun di dunia ini kualitas pendidikan ditentukan oleh
kualitas gurunya, bukan oleh besarnya dana pendidikan dan juga bukan
oleh hebatnya fasilitas. Jika guru berkualitas baik maka baik pula
kualitas pendidikannya.
Contohnya adalah Finlandia, negara dengan kualitas pendidikan terbaik
di dunia, yang dengan serius menjaga kualitas gurunya.
Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengan kualitas
terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah
profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis.
Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat
masuk di sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7 pelamar yang
bisa diterima, lebih ketat persaingainnya ketimbang masuk ke fakultas
bergengsi lainnya seperti fakultas hukum dan kedokteran! Bandingkan
dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengan kualitas
seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas seadanya
pula.
Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan dan pelatihan guru
yang berkualitas tinggi tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi
guru-guru dengan kualitas yang tinggi pula. Dengan kompetensi tersebut
mereka dengan mudah menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka,
dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang mereka
pilih sendiri. Tak ada permasalahan dengan kurikulum apa pun yang
mereka inginkan. Dengan koki yang hebat bahan makanan seadanya bisa
menjadi masakan yang enak dan menarik sedangkan orang yang tidak bisa
memasak hanya akan merusak bahan makanan yang sebaik apa pun.
Thursday, February 7, 2008
MENCETAK GURU BERKUALITAS: TANTANGAN DUNIA PENDIDIKAN
Posted by
Robby Zunaidy
at
4:12 PM
0
comments
Monday, February 4, 2008
PAHLAWAN DAN PENGORBANAN
Seseorang disebut pahlawan karena timbangan kebaikannya jauh mengalahkan timbangan keburukannya, karena kekuatannya mengalahkan sisi kelemahannya. Jika engkau mencoba menghitung kesalahan dan kelemahannya, niscaya engkau menemui bahwa kesalahan dan kelemahan itu "tertelan" oleh kebaikan dan kekuatannya.
Tapi kebaikan dan kekuatan itu bukanlah untuk dirinya sendiri, melainkan merupakan rangkaian amal yang menjadi jasanya bagi kehidupan masyarakat manusia. Itulah sebabnya tidak semua orang baik dan kuat menjadi pahlawan yang dikenang dalam ingatan kolektif masyarakat atau apa yang kita sebut sejarah. Hanya apabila kebaikan dan kekuatan menjelma jadi matahari yang menerangi kehidupan, atau purnama yang merubah malam jadi indah, atau mata air yang menghilangkan dahaga.
Nilai sosial setiap kita terletak pada apa yang kita berikan kepada masyarakat atau pada kadar manfaat yang dirasakan masyarakat dari keseluruhan perfomance kepribadian kita. Maka Rasulullah saw berkata: "Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain."
Demikian kita menobatkan seseorang menjadi pahlawan karena ada begitu banyak hal yang telah ia berikan kepada masyarakat. Maka takdir seorang pahlawan adalah bahwa ia tidak pernah hidup dan berpikir dalam lingkup dirinya sendiri. Ia telah melampui batas-batas kebutuhan psikologis dan biologisnya. Batas-batas kebutuhan itu bahkan telah hilang dan lebur dalam batas kebutuhan kolektif masyarakatnya dimana segenap pikiran dan jiwanya tercurahkan.
Dalam makna inilah pengorbanan menemukan dirinya sebagai kata kunci kepahlawan seseorang. Disini ia bertemu dengan pertanggungjawaban, keberanian, dan kesabaran. Tiga hal terakhir ini adalah wadah-wadah kepribadian yang hanya akan menemukan makna dan fungsi kepahlawanannya apabila pengorbanan yang mengisi dan menggerakkannya. Pengorbananlah yang memberi arti dan fungsi kepahlawanan bagi sifat-sifat pertanggunjawaban, keberanian, dan kesabaran.
Maka keempat makna dan sifat ini rasa tanggung jawab keagamaan, semangat pengorbanan, keberanian jiwa, dan kesabaran adalah rangkaian dasar yang seluruhnya terkandung dalam ayat-ayat jihad. Dorongannya adalah tanggung jawab keagamaan (semacam semangat penyebaran dan pembelaan). Hakikat dan tabiatnya adalah pengorbanan. Perisainya keberanian jiwa. Tapi nafas panjangnya adalah kesabaran.
Begitulah kemudian menjadi benar apa yang dikatakan oleh Sayyid Qutb: "orang yang hidup bagi dirinya sendiri akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Tapi orang yang hidup bagi orang lain akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar"
Kaidah itu tidak saja berlaku bagi kehidupan individu, tapi juga merupakan kaidah universal yang berlaku bagi komunitas manusia. Syakib Arselan, pemikir Muslim asal Syiria, yang menulis buku Mengopo Kaum Muslimin Mundur dan Orang Barat Maju menjelaskan jawabannya dalam kalimat yang sederhana, "Karena," kata Syakib Arselan, "orang-orang Barat lebih banyak berkorban daripada kaum Muslimin. Mereka memberi lebih banyak demi agama mereka ketimbang apa yang diberikan kaum Muslimin bagi agamanya."
Sekarang mengertilah kita, "Apakah yang dibutuhkan untuk menegakkan negara, agama ini dalam realitas kehidupan?" Yaitu, hadirnya para pahlawan sejati yang tidak lagi hidup bagi dirinya sendiri, tapi hidup bagi orang lain, negara dan agamanya serta mau mengorbankan semua yang ia miliki bagi negara dan agamanya itu.
Posted by
Robby Zunaidy
at
11:23 AM
0
comments
MERUBAH KEGAGALAN JADI KESUKSESAN
Siapa mau gagal ? Tentu saja tidak ada yang bersedia. Hampir semua orang berusaha untuk tidak menemui kegagalan. Namun meski tak diinginkan, gagal Bering dengan santainya menghampiri manusia. Tak selamanya manusia berada hanya pada satu kondisi, misalnya sukses atau gagal saja. Sebab itulah hidup manusia menjadi dinamis.
Gagal dan sukses adalah dua buah kata yang setiap saat akan menyertai setiap usaha manusia. Dua kata ini ticlak melekat bersamaan namun bergantian. Dua kata itu saling menggantikan posisinya pada setiap usaha manusia dan memiliki arti yang berbeda bahkan saling berlawanan. Kalau bukan sukses yang ditemui maka kondisi yang sangat mungkin timbul adalah gagal.
Sukses atau gagal bagi tiap orang memiliki standar yang berbeda untuk hal yang sama. Karena persepsi terhadapnya tiap orang berbeda-beda. Reaksi terhadap sukses atau gagalpun tiap orang tak sama. Hal ini terjadi karena masing-masing manusia berbeda satu sama lain, unik dan khas.
Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh faktor sosial budaya, tingkat aspirasi atau pun motivasi, pola asuh dalam keluarga, dan alasan yang sangat beragam. Di Jepang misalnya, gagal atau kegagalan ibarat akhir dari segalanya yang dapat berujung pada harakiri. Sedangkan dibelahan bumi yang lain kita mengenal pepatah "Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda". Terkadang kita saat merasakan gagal enggan rasanya mendengar pepatah itu.
Dibalik pepatah itu ada sebuah tujuan yang luhur yaitu menyuntikkan semangat bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya. Kegagalan dapat bersifat positif apabila kita dapat menarik manfaat dari kegagalan itu. Tetapi bisa juga bersifat negatif apabila dianggap sebagai sebuah gerbang yang tidak dapat ditembus lagi, apalagi untuk dimasuki. Hal ini kemudian membuat orang menyerah pada nasib.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kita tak selalu terpuruk pada kegagalan:
1. Bersikap positif terhadap kegagalan
Sikap positif ini merupakan dasar utama untuk memahami bahwa kegagalan bukan sesuatu yang harus ditakuti. Tanga adanya sikap positif, kita akan merasa seolah-olah hidup di alam tak nyata, pasif, menarik diri, dan tidak ingin berbuat apa-apa lagi karena takut gagal. Bersikap positif artinya mampu memandang suatu kegagalan sebagai peristiwa hidup yang harus dialami. Kita siap untuk menerima kegagalan kapan saja dan dalam bentuk apa pun. Dan yang lebih penting kita dapat menikmati hidup dalam kondisi apapun, sehingga kita merasakan kehidupan ini bermakna dalam segala situasi serta mampu menerima diri secara penuh. Hal ini akan sangat berpengaruh pada rasa harga diri kita dan akan berujung pada memiliki konsep diri yang positif.
2. Mencari penyebab
Ada dua faktor utama penyebab kegagalan, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dapat disebabkan misalnya, kurang hati-hati dalam melakukan sesuatu atau menganggap remeh, sehingga dalam melakukannya tidak sepenuh hati. Sedangkan untuk faktor eksternal seperti persaingan dengan orang lain, mungkin kemampuan yang dimiliki sama atau melebihi kemampuan kita sehingga memperbesar peluang kegagalan. Terkadang kita mudah melemparkan alasan bahwa kegagalan adalah faktor eksternal. Begitu mudahnya menyalahkan hal-hal diluar diri kita sebagai penyebab kegagalan. Namun sulit untuk mengakui bahwa kegagalan itu juga dipengaruhi oleh hal-hal yang bersifat internal. Bahkan mungkin faktor internallah yang memiliki andil terbesar.
3. Melakukan Identifilkasi
Melalukan identifikasi akan memudahkan kita dalam mengatasi kegagalan, mana yang didahulukan untuk diatasi dan mana yang nomor sekian. Mengidentifikasi dapat dilakukan dengan cara mencatat hal-hal yang sering membuat kita gagal. Faktor internal atau eksternal. Mengatasi faktor internal tentu lebih sulit dibandingkan dengan faktor eksternal. Karena rasa-rasa dari kita takut untuk melihat diri sendiri dan sulit menerima kenyataan bahwa kita ternyata tidak seperti yang kita bayangkan.
4. Mengevaluasi Diri
Umumnya kalau kita gagal yang pertama disalahkan adalah pihak luar, jarang yang mau mengakui kesalahan diri. Melakukan evaluasi diri berarti kita berusaha mengakui kesalahan itu, bersikap dewasa dan bijaksana karena berani bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan. Evaluasi diri sekaligus melatih untuk semakin mengerti tentang diri kita sendiri.
5. Menggali Kekuatan Diri
Kegagalan sebenarnya bukan suatu pertanda kita tidak memiliki kekuatan dalam diri. Kita hanya belum mengenal atau mampu menggunakan kekuatan itu secara maksimal. Gali potensi-potensi yang sangat mungkin untuk dikembangkan. Kita akan berhasil menginventarisasi potensi-potensi apabila terus berusaha mengenali kekuatan kita
6. Mengenali Kelemahan diri
Meneliti kelemahan sendiri sebenarnya merupakan kesempatan untuk melakukan koreksi diri. Sebaliknya, bila tidak mau meneliti kelemahan, seolah kita hidup dalam dunia maya, karena tidak akan pernah melihat diri kita yang sebenarnya.
7. Melihat Peluang
Hendaknya kita pandai melihat peluang. Peluang dapat diperoleh apabila mau belajar dari kegagalan itu sendiri serta mampu menyiasati hal-hal yang membuat kita gagal. Perlu disadari, yang kita alami bukanlah suatu ancaman bagi kehidupan kita, melainkan kesempatan untuk mengubah hidup kita menjadi lebih efektif.
8. Trial & Error
Hal ini merupakan salah satu tolok ukur bahwa kita ingin mengubah kegagalan menjadi kesuksesan. Tinggal sejauh mana kita mau dan berani mencoba kembali kegagalan itu. Sebelum mencoba kembali, hendaknya dipikirkan masak-masak langkah-langkah yang akan ditempuh. Kunci utama trial and error adalah ketekunan dan sikap pantang menyerah dalam uji coba mengatasi kegagalan.
9. Iringi Setiap Usaha Dengan Sikap Tawakkal
Dengan menyadari bahwa setiap usaha hasil akhirnya adalah hak Allah SWT. Kita wajib berusaha sungguh-sungguh dan yang tak kalah pentingnya adalah kita harus tawakkal, berserah diri. Adalah sunatullah bahwa hasil yang akan dituai sebanding dengan usaha yang kita lakukan, namun adakalanya kita tidak tahu hasil yang terbaik untuk kita. Hanya Allahlah yang tahu, karena bagaimanapun pengetahuan kita atas diri kita jauh dibawah pengetahuan Allah atas diri kita, karena Dialah Sang Pencipta kita. Menyadari bahwa gagal dan sukses ada campur tangan Allah, Insya Allah akan membuat kita mampu berlapang dada menerima kegagalan dan menghimpun energi kembali untuk mencoba berusaha menggapai kesuksesan.
Posted by
Robby Zunaidy
at
11:21 AM
0
comments
NEGERI CINTA
Sudah kembalinya saudara-saudara kita dari tanah suci Mekkah, banyak yang mereka dapatkan dari ibadah disana. Mereka berbaur menajdi satu dengan semua etnis dunia.
Arafah. Padang luas tempat kita menghampar jiwa. Semua lebur jadi satu tanpa sekat. Semua sekat: etnis, warna kulit, postur, latar budaya dan sejarah. Ihram putih yang membalut tubuh-tubuh kita menyimbolkan kesatuan. Semua kesatuan: asal usul, tujuan hidup, jalan hidup yang kita tempuh untuk mencapai tujuan itu.
Arafah itu seperti lukisan jiwa-jiwa yang digantung di dinding sejarah. Seluruh jiwa menyatu dalam lukisan yang rumit; disatukan oleh kekuatan Yang lahir kekuatan; kekuatan cinta yang lahir kekuatan iman. Tiba-tiba kita semua merasakan kerendahan hati yang tulus. Lalu jiwa kita hampar bagai permadani; silakan semua orang duduk di sana. Perbedaan-perbedaan ini “etnis, warna kulit, postur, latar budaya dan sejarah“ seketika berubah menjadi sumber keindahan yang menghiasi langit kehidupan kita.
Cintalah rahasianya. Maka ekspansi Islam dari jazirah Arab ke kawasan Asia Tengah, Selatan, Tenggara dan Cina, atau kawasan Afrika Selatan dan Utara sampai ke Eropa Barat dan Timur, bukanlah suatu catatan tentang pedang terhunus yang tak pernah berhenti berdarah. Itu justru serangan pasukan cinta yang datang membebaskan jiwa-jiwa manusia dari belenggu Yang membatasi hidupnya dengan sekat tanah dan etnis: maka menyatulah mereka dalam cinta yang melapangkan dunia. "Akan kami perangi mereka dengan cinta", kata Hasan Al Banna.
Dalam celupan cinta jiwa-jiwa itu muncul kembali dengan kesamaan-kesamaan baru: keramahan yang tulus, kerendahan hati yang natural, kedermawanan dan kebiasaan menolong orang lain. Pergilah ke negara-negara Islam dan temuilah masyarakatnya, kamu pasti menemukan sifat-sifat itu merata di antara mereka. Itulah sifat-sifat yang lahir dari cinta.
Dan itulah yang terjadi kemudian. Bangsa-bangsa Islam adalah rumpun ideologi yang tidak pernah bisa punah, bahkan ketika khilafah mereka runtuh dan negara-negara mereka porak-poranda. Bandingkanlah dengan imperium Romawi, atau Persia atau Uni Soviet. Bangsa-bangsa mereka pecah begitu institusi negara mereka runtuh. Nasib seperti ini rasanya juga akan dialami oleh negara-negara kosmo saat ini. Materialisme telah membangun sebuah dunia kosmo yang disatukan dan dipisahkan oleh uang. Di dunia kita saat ini, krisis ekonomi bisa dengan mudah menghancurkan sebuah bangsa, menutup riwayat sebuah negara, seperti Uni Soviet. Walaupun tidak dapat meramalkan waktu kejadiannya, tapi saya memiliki kepercayaan Yang kuat, bahwa Amerika Serikat juga akan mengalami masa depan yang sama.
Batasan negeri kita, dan negeri mana pun, adalah ruang hati kita. Seluas apa ruang hati kita dapat menampung orang lain, seluas itulah negeri yang mungkin kita huni. Selama apa cinta dapat bertahan dalam hati kita, selama itulah umur negeri kita. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang rumit sebenarnya tersimpan sebuah rahasia yang sederhana: keutuhan kita sebagai bangsa seumur dengan umur cinta kita.
Posted by
Robby Zunaidy
at
11:18 AM
0
comments
ELEGI JAMAN
Jaman makin tua. Dalam hitungan masehi, hijriyah maupun imlek berganti ke tahun yang baru. Ada harapan baru (minimal semangat baru). Tapi sederet duka lama masih menganga. Pengangguran, krisis ekonomi, pemerintahan baru yang muram, meningkatnya kriminalitas, kebobrokan moral, hanyalah sebagian kecil dari borok dan bopeng wajah sosial kita.
Yang paling mengerikan adalah munculnya 'gerakan obyektivitas'. Sebuah gelombang baru pemahaman manusia tentang dirinya sendiri. Bahwa segalanya adalah manusiawi bila sesuai dengan kehendak kemanusiaannya. Meski unsur yang dominan adalah hawa nafsunya. Mereka memperkosa semena-mena teori obyektivitas Paul B. Horton, (1984): "Obyektifitas adalah kemampuan untuk melihat dan menerima fakta sebagaimana adanya, bukan sebagai apa yang diharapkan ". Maka lahirlah keyakinan bahwa segala kehendak manusia adalah fakta genetis dan biologis yang harus dipandang apa adanya. Inilah yang kemudian menjadi ruh bagi gerakan revolusi 'orang-orang gila' itu.
Maka jangan heran bila banyak orang dengan gegabah mengatakan bahwa foto bugil di sampul majalah dan tabloid itu tidak porno. Tapi sebuah seni yang indah, bila dipandang apa adanya, tanpa preferensi agama, moral, pribadi, apalagi politik. Atau sikap beberapa mahasiswa yang menganggap seks bebas itu sah-sah saja. Karena is seperti kebutuhan makan, tak perlu diikat etika yang rumit. Atau seperti apa yang dilakukan sebuah biro di Amerika baru-baru ini. Melalui jaringan internet, biro, itu menjual sel-sel telur para bintang dan model perempuan. Dalam penjualan perdananya, ditawarkan delapan model cantik. Harga untuk satu sel telur antara 15.000 hingga 100.000 US $. Angka itu belum termasuk biaya lain-lain seperti proses pembuahan dan perawatan
Jaman makin tua. Setengah dari 6 miliar penduduk dunia hidup dalam kemiskinan. Dengan pendapatan rata-rata tiga dolar per hari, bahkan lebih buruk. Padahal di Paris, pemerintah setahunnya menghabiskan lebih 140 miliar rupiah hanya untuk membersihkan kotoran anjing milik warga yang nge-pup sembarangan di jalan-jalan kota wisata dunia itu. Sementara masyarakat Inggris telah membelanjakan tujuh trilyun lebih untuk kucing piaraan mereka sekaligus perhiasannya. Ironis, memang.
Jaman makin tua. Indonesia menjadi penyumbang ketiga penyakit TBC di dunia. Menurut Prof. Anfasa Muluk, satu tahun kedepan jumlah penderita TBC di Indonesia bisa menjadi 100 juta orang, atau hampir setengah dari penduduk negeri ini. Sementara penyakit mental tak kalah mengerikan. Kepolisian Metro Jaya belum lama ini menggagalkan penyelundupan 54 ribu lebih VCD porno. Sebulan sebelumnya, mereka menangkap pembawa 990 kilo gram lebih ganja kering, atau hampir satu ton. Padahal menurut seorang sumber di Rumah Sakit Ketergantungan Obat di Jakarta, dari seluruh pasien yang berobat, hanya 1 % yang dimungkinkan bisa sembuh.
Jaman makin tua. Kebiadaban belum berhenti. Kebrutalan merajalela. Apalagi kala sejarah kerusakan manusia menemukan kemasan yang necis, elegan, dan mungkjn 'terhormat'. Karenanya, Mantan Sekjen PBB Kofi Annan menyebut abad 20 abad paling kejam. Meski seharusnya tuan Kofi sadar, sebagian kekejaman itu adalah karya nyata organisasi yang pernah dipimpinnya.
Dunia kian renta, menanti manusia-manusia pembangun. Walau seorang penyair sempat galau:
bila seribu pembangun
di belakangnya seorang penghancur
cukuplah sudah
bagaimana jadinya bila seorang pembangun
di belakangnya seribu penghancur?
Posted by
Robby Zunaidy
at
11:14 AM
0
comments
Thursday, January 31, 2008
Guru dan Organisasinya
Sumber: Suara Pembaruan, Jumat, 25 Jan 2007
Nanang (Ahmad Rizali)
Sejumlah guru di seluruh Indonesia saat ini 2,7 juta. Sekitar 90 persen dari jumlah itu adalah produk Orde Baru yang cenderung pada kesetiaan tunggal. Semua guru PNS wajib menjadi anggota Korpri dan secara otomatis memperoleh kartu anggota Golkar. Sebelumnya, pernah sejumlah guru menolak doktrin kesetiaan tunggal, namun akhirnya dikucilkan dari pergaulan serta tidak diberikan pekerjaan mengajar.
Dalam berorganisasi pun guru PNS hanya punya satu pilihan, bahkan dipaksa menjadi anggota Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), organisasi raksasa yang hari kelahirannya ditetapkan UU menjadi Hari Guru Nasional. Karena otomatis menjadi anggota maka otomatis pula gajinya dipotong sekian persen untuk iuran organisasi.
Tetapi, dengan memaksa guru PNS hanya setia dan taat kepada PGRI, Korpri, dan pada akhirnya harus setia mencoblos Golkar, tidak otomatis membuat guru semakin terampil mengajar. Hal itu disebabkan keterampilan profesional guru bukan menjadi indikator untuk kenaikan pangkat dan penilaian kompetensi seorang guru, namun indikator tertinggi adalah kesetiaan kepada ideologi dogmatis yang hanya boleh ditafsirkan oleh pemerintah (Nielsen, 2003).
Orde Reformasi tiba, semua kesetiaan tunggal berubah menjadi kesetiaan jamak, Guru sudah bebas menentukan kepada partai politik mana mereka ingin memberikan aspirasi. Guru pun bebas menentukan organisasi profesinya, bisa berhenti sebagai anggota PGRI dan ikut Forum Guru atau organisasi apapun yang tumbuh bak jamur di musim hujan.
Potongan gaji untuk iuran PGRI pun dihentikan dan sejak saat itu guru bebas sepenuhnya menata diri secara formal. Tetapi, karena terbiasa harus setia kepada satu organisasi saat dibebaskan dalam memilih organisasinya maka banyak guru yang gamang. Akhirnya dengan berbagai alasan, guru tetap bernaung di bawah organisasi PGRI.
Berubahkah PGRI seperti Golkar yang berubah menjadi partai dan mengubah slogannya serta gencar berpromosi? PGRI konon berubah sangat lambat, sebagaimana sifat alamiah sebuah organisasi besar yang pernah dipolitisasi dan dipaksa setia mutlak kepada pemerintah. Meskipun demikian, PGRI terbukti berhasil menggolkan UU Guru dan Dosen. Pimpinan PGRI mampu mendulang suara menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan banyak pula anggota PGRI menjadi pimpinan daerah.
Tapi, PGRI gagal menjadi organisasi profesi dalam arti sebenarnya bahwa semua anggotanya adalah guru profesional yang kompeten, seperti Dokter dengan IDI, akuntan dengan IAI, insinyur dengan PII, dan organisasi profesi lainnya. PGRI belum berhasil menjadi seperti IDI yang rekomendasinya mutlak menjadi rujukan Dinas Kesehatan ketika memberikan izin praktek dokter dan menghukum anggotanya jika melanggar kode etik. PGRI gamang, ketika semua tuntutan tentang kesejahteraan guru mulai dikabulkan pemerintah dan tiba saatnya masyarakat mulai menuntut PGRI agar mampu meningkatkan mutu guru dan PGRI lemah di sektor ini.
Paling Mapan
Meskipun PGRI gamang, tetapi diakui atau tidak, dialah satu-satunya organisasi guru terbesar, paling mapan dan berakar di republik ini. Ibarat partai, dia adalah Golkar yang sudah berurat-akar dalam masyarakat. Namun, Golkar cepat membaca tanda zaman dan PGRI terlambat menyikapinya. Kita akan kehilangan aset jika sampai PGRI mati atau dibubarkan.
Ketika Golkar babak-belur dihantam dari semua penjuru dan nyaris jatuh pimpinannya mampu mengubah Golkar dengan elegan menjadi sebuah partai politik dan mampu menggalang para kader petarungnya menjadi ketua di setiap DPD. Partai ini menjadi mesin politik paling efektif untuk memenangkan pemilu. Banyak daerah yang dipimpin oleh kader didikan zaman Golkar dihujat dan me- reka bisa ber- tahan di masa kritis.
Berbeda dengan Golkar, PGRI tidak sempat digebuki oleh masyarakat dan guru, sehingga PGRI tidak dipaksa berubah dan tetap mapan dipimpin oleh kader mapan bermental birokrat yang lamban. Oleh sebab itu, PGRI kurang lincah dan sering terlambat menyikapi perubahan dan tanda-tanda zaman.
Guru Profesional
Karena posisi yang strategis sudah seharusnya PGRI mengubah diri secara total, lebih membuka diri dan merekrut kader guru profesional yang andal, visioner, terampil mengajar, kritis dan independen. Para guru yang memenuhi kriteria tersebut, jangan hanya ribut di luar, tapi hendaknya masuk dan mengubah PGRI yang berkultur birokrat menjadi berkultur profesional, yang hanya loyal kepada visi kemajuan pendidikan anak bangsa. PGRI harus mendorong mereka menjadi pemimpin puncak organisasi. Oleh karena itu para birokrat yang memimpin PGRI sebaiknya diganti dengan kader andal.
Jika rencana besar tersebut dilaksanakan sejalan dengan upaya pemerintah merevitalisasi pendidikan guru, maka penulis yakin hanya dalam kurun waktu 10 tahun PGRI akan mampu menjadi organisasi profesional dan sebesar American Federation of Teachers (AFT), dengan mendirikan banyak kursus keterampilan untuk meningkatkan kompetensi guru.
Penulis adalah aktivis pengembangan guru di The CBE
Posted by
Robby Zunaidy
at
3:39 PM
0
comments
Korea Saja Bisa, Apalagi Indonesia
Oleh : Koh Young Hun
Tiga puluh tahun yang lalu,
saya mendengar dari profesor saya di ruang kelas bahwa Indonesia
merupakan negara yang berpotensi tinggi, karena sumber daya alam dan
manusianya begitu kaya. Tiga puluh tahun sudah lewat, dan saya sudah
menjadi profesor. Saya masih juga mengatakan kepada murid-murid saya
bahwa Indonesia negara besar dan berpotensi tinggi dengan alasan yang
sama.
Tanggal 19 Desember 2007, rakyat Korea (Korsel) memilih
presiden baru, yaitu Lee Myung-bak (biasa disebut MB) yang akan memulai
lima tahun masa jabatannya pada 25 Februari mendatang. MB berjanji
bahwa dalam masa jabatannya Korea akan lebih maju dengan wawasan 7-4-7,
yang berisikan bahwa 7 persen pertumbuhan ekonomi per tahun, 40.000
dollar AS pendapatan per kapita, dan negara ke-7 terbesar dari segi
ekonominya (sekarang ke-11 terbesar). Pada hemat saya, Indonesia juga
bisa, karena negara ini punya kemampuan.
Ciri utama yang mewarnai
negara berkembang, dan merupakan musuh utama yang harus kita kalahkan,
ialah kebodohan dan kemalasan yang keduanya adalah cikal bakal yang
melahirkan kemiskinan. Karena itu, siapa yang lebih dahulu mampu
menghilangkan dua sifat buruk itu, maka dialah yang akan dengan cepat
dapat meraih kemajuan dan kemakmuran bangsanya.
Dalam teori
pembangunan, sebagaimana ditulis Steven J Rosen dalam bukunya, The
Logic of International Relation, dikenal dua aliran pendapat tentang
sebab-sebab keterbelakangan negara-negara berkembang, di mana kedua
aliran pendapat itu secara prinsip sangat berbeda satu dengan yang
lain. Dalam hal ini, Indonesia dan Korea memiliki pandangan yang sama,
yakni menganut paham tradisional; menganggap bahwa proses pertumbuhan
ekonomi dan pembangunan di sebagian besar negara terhambat akibat
rendahnya tingkat produktivitas yang berhubungan erat dengan tingginya
kemubaziran dan ketidakefisiensian sosial. Aliran ini berpendapat bahwa
keterbelakangan dan kemiskinan mutlak disebabkan faktor-faktor
internal. Istilah Jawa-nya karena salahe dewe.
Adapun aliran yang
lain, ialah aliran radikal, memandang kemiskinan dan keterbelakangan
suatu negara (terutama negara ketiga) disebabkan oleh kondisi
internasional, yakni adanya eksploitasi negara-negara maju terhadap
negara-negara berkembang. Namun, dalam hal ini saya beranggapan bahwa
teori ini cenderung selalu mencari kambing hitam. Pepatah Melayu-nya,
karena awak tak bisa menari, lantai pula yang disalahkan.
Etos Korea
Kita
semua tahu bahwa Korea dalam kurun waktu relatif singkat telah menjelma
menjadi masyarakat modern, yaitu masyarakat yang telah mampu melepaskan
diri dari ketergantungan pada kehidupan agraris.
Kemajuan Korea
ini telah membuat banyak orang berdecak, terpukau seperti melihat
keajaiban sebuah mukjizat. Para pakar bertanya-tanya, resep apa
gerangan yang telah membuat bangsa yang terubah menjadi negara dan
bangsa yang makmur? Sejak awal tahun 1970-an pihak Pemerintah Korea
dalam rangka semangat pembangunan nasional telah berusaha membentuk
tipe manusia Korea yang memiliki empat kualitas. Pertama, "sikap rajin
bekerja". Lebih menghargai bekerja secara tuntas betapa pun kecilnya
pekerjaan itu, tinimbang pidato yang muluk-muluk tetapi tiada
pelaksanaannya.
Kedua, "sikap hemat", yang tumbuh sebagai buah
dari sikap rajin bekerja tadi. Ketiga, "sikap self-help", yang
didefinisikan sebagai berusaha mengenali diri sendiri dengan perspektif
yang lebih baik, lebih jujur, dan lebih tepat; berusaha mengembangkan
sifat mandiri dan rasa percaya diri. Keempat, kooperasi atau kerja
sama, cara untuk mencapai tujuan secara efektif dan rasional, dan
mempersatukan individu serta masyarakatnya.
Inilah picu laras
yang memacu jiwa kerja bangsa Korea. Bila kita perhatikan, keempat
butir nilai itu sesungguhnya adalah nilai luhur bangsa Indonesia.
"Rajin pangkal pandai..." dan "sedikit bicara banyak kerja" adalah
pepatah yang telah mengakar dalam budaya Indonesia.
Adapun nilai
self-help, mandiri, sudah lama melekat dalam nilai religi sebagian
besar masyarakat Indonesia, karena Tuhan Yang Maha Esa dalam Al Quran
menyebutkan bahwa sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib sesuatu
bangsa, kecuali bangsa itu mengubah nasibnya sendiri. Sedangkan setiap
usaha mengubah nasib, baik itu membuahkan hasil ataupun tidak, Islam
telah memberinya nilai tambah; digolongkan pada perbuatan ibadah.
Sementara sifat yang terakhir, kooperasi, adalah sendi-sendi budaya
Indonesia yang amat menonjol. Kooperasi atau gotong royong tetap
dipelihara dan dilestarikan.
Burung Garuda
Sebagai
penutup, saya ingin sedikit mendongeng tentang seekor anak burung
garuda yang tertangkap dan dipelihara oleh seorang pemburu. Dari hari
ke hari dia hanya bermain di halaman rumah; bersama-sama ayam kampung.
Lalu pada suatu hari lewatlah seorang ahli unggas. Sang zoologist itu
terkejut.
"Ah!" pikir sang ahli unggas itu terheran-heran. "Sungguh mengherankan burung garuda itu!" ujarnya kepada pemburu.
"Dia
bukan burung garuda lagi. Nenek moyangnya mungkin garuda, tetapi dia
kini tidak lebih dari ayam-ayam sayur!" balas sang pemburu mantap.
"Tidak! Menurutku dia burung garuda, dan memang burung garuda!" bantah si ahli unggas itu.
Burung garuda ditangkap, lalu diapungkan ke atas udara. Garuda mengepak, lalu terjatuh.
"Betul, kan?" ujar si pemburu. "Dia bukan garuda lagi!"
Kembali
si ahli unggas itu menangkap garuda, dan mengapungkannya lagi. Kembali
garuda mengepak, lalu turun kembali. Si pemburu kembali mencemooh dan
semakin yakin garuda telah berubah menjadi ayam.
Dengan penuh
penasaran si ahli unggas memegang burung itu, lalu dengan lembut
membelai punggungnya, seraya dengan tegas membisikkan: "Garuda, dalam
tubuhmu mengalir darah garuda yang perkasa. Kepakkanlah sayapmu,
terbanglah membubung tinggi, lihatlah alam raya yang luas yang amat
indah. Terbanglah! Membubunglah! " Burung dilepas, dia mengepak. Semula
tampak kaku, kemudian tambah mantap, akhirnya garuda melesat membubung
tinggi, karena dia memang garuda.
Nah, barangkali cerita ini ada
persamaannya dengan bangsa Indonesia. Bukti kejayaan masa lampau telah
membuat mata dunia takjub. Borobudur satu bukti karya perkasa. Kini
camkanlah bahwa Anda sekalian mampu, Anda punya kemampuan. Korea saja
bisa, apalagi Indonesia.
Koh Young Hun
Profesor di Program Studi Melayu-Indonesia,
Hankuk University of Foreign Studies
Seoul, Korea
Posted by
Robby Zunaidy
at
3:31 PM
0
comments
Baik dan Buruknya Tuhan Yang Maha Tahu
Mendiang Soeharto baru memasuki hidup yang
sebenarnya.. ., apakah nanti enak selama-lamanya atau
tidak enak selama-lamanya ... itu hanya dia dan Allah
swt yang tahu..
Ternyata orang "kuat" indonesia dan dunia kalau sudah
ajal.., yang tidak bisa apa-apa.., meskipun dengan
dukungan alat dan dana yang super.., jika 'Ijaroil
memamggil., hati akan menggigil... ,
Dunia hanya sebatas umur tapi akhirat abadi
selamanya.., Tapi meskipun sedikit dunia menentukan
yang abadi itu..
Yang jelas semua itu adalah menjadi bahan pelajaran
bagi kita..., bahwa hidup yang sebenarnya tergantung
kita sendiri yang menentukan. Semua sudah diatur dan
diberi pedoman dan rambu-rambu langsung dari "yang
punya aturan" lewat nabinya..
Kita sebagai makhluk yang berakal
pasti akan selalu mencari kebenaran yang "pasti".
Benar dan tidak sudah ada dalam Quran, dan itu
kebenaran yang mutlak sampai kiamat..
Memang kita selama ini berkecimpung dalam dunia semu
dan penuh kepalsuan. Baru sadar ketika ajal
menjelang. Dan itu semua menggambarkan maha rahman
dan rahimnya Allah.., kita diberi kebebasan untuk
menentukan mau selamat atau terjerembab.
Semua.. kita semua dapat selamat dan selalu ingat
rambu-rambu Ilahi...,
Posted by
Robby Zunaidy
at
3:17 PM
1 comments
Santai & Berusaha
"
Apapun persoalan yang ada kita harus tetap nyantai dan terus memandang kedepan.
Posted by
Robby Zunaidy
at
2:45 PM
0
comments
Saturday, January 19, 2008
DETIK-DETIK MENJELANG KEPERGIANNYA MANTAN PRESIDEN SOEKARNO
Jakarta, Selasa, 16 Juni 1970. Ruangan intensive care RSPAD Gatot Subroto dipenuhi tentara sejak pagi. Serdadu berseragam dan bersenjata lengkap bersiaga penuh di beberapa titik strategis rumah sakit tersebut. Tak kalah banyaknya, petugas keamanan berpakaian preman juga hilir mudik di koridor rumah sakit hingga pelataran parkir. Sedari pagi, suasana mencekam sudah terasa. Kabar yang berhembus mengatakan, mantan Presiden Soekarno akan dibawa ke rumah sakit ini dari rumah
tahanannya di Wisma Yaso yang hanya berjarak lima kilometer.
Malam ini desas-desus itu terbukti. Di dalam ruang perawatan yang sangat sederhana untuk ukuran seorang mantan presiden, Soekarno, tergolek lemah di pembaringan. Sudah beberapa hari ini kesehatannya sangat mundur. Sepanjang hari, orang yang dulu pernah sangat berkuasa ini terus memejamkan mata. Suhu tubuhnya sangat
tinggi. Penyakit ginjal yang tidak dirawat secara semestinya kian menggerogoti kekuatan tubuhnya.
Lelaki yang pernah amat jantan dan berwibawa-dan sebab itu banyak digila-gilai perempuan seantero jagad, sekarang tak ubahnya bagai sesosok mayat hidup. Tiada lagi wajah gantengnya. Kini wajah yang dihiasi gigi gingsulnya telah membengkak, tanda bahwa racun telah menyebar ke mana-mana. Bukan hanya bengkak, tapi bolong-bolong bagaikan permukaan bulan. Mulutnya yang dahulu mampu menyihir jutaan massa dengan pidato-pidatonya yang sangat memukau, kini hanya terkatup rapat dan kering. Sebentar-sebentar bibirnya gemetar. Menahan sakit. Kedua tangannya yang dahulu sanggup meninju langit dan mencakar udara, kini tergolek lemas di sisi tubuhnya yang kian kurus.
Sang Putera Fajar tinggal menunggu waktu. Dua hari kemudian, Megawati, anak sulungnya dari Fatmawati diizinkan tentara untuk mengunjungi ayahnya. Menyaksikan ayahnya yang tergolek lemah dan tidak mampu membuka matanya, kedua mata Mega menitikkan airmata. Bibirnya secara perlahan didekatkan ke telinga manusia yang
paling dicintainya ini.
"Pak, Pak, ini Ega..."
Senyap.
Ayahnya tak bergerak. Kedua matanya juga tidak membuka. Namun kedua bibir Soekarno yang telah pecah-pecah bergerak-gerak kecil, gemetar, seolah ingin mengatakan sesuatu pada puteri sulungnya itu. Soekarno tampak mengetahui kehadiran Megawati. Tapi dia tidak mampu membuka matanya. Tangan kanannya bergetar seolah ingin menuliskan sesuatu untuk puteri sulungnya, tapi tubuhnya terlampau lemah untuk sekadar menulis. Tangannya kembali terkulai. Soekarno terdiam lagi.
Melihat kenyataan itu, perasaan Megawati amat terpukul. Air matanya yang sedari tadi ditahan kini menitik jatuh. Kian deras. Perempuan muda itu menutupi hidungnya dengan sapu tangan. Tak kuat menerima kenyataan, Megawati menjauh dan limbung. Mega segera dipapah keluar. Jarum jam terus bergerak. Di luar kamar, sepasukan
tentara terus berjaga lengkap dengan senjata.
Malam harinya ketahanan tubuh seorang Soekarno ambrol. Dia koma. Antara hidup dan mati. Tim dokter segera memberikan bantuan seperlunya.
Keesokan hari, mantan wakil presiden Muhammad Hatta diizinkan mengunjungi kolega lamanya ini. Hatta yang ditemani sekretarisnya menghampiri pembaringan Soekarno dengan sangat hati-hati. Dengan segenap kekuatan yang berhasil dihimpunnya, Soekarno berhasil membuka matanya. Menahan rasa sakit yang tak terperi, Soekarno berkata lemah.
"Hatta.., kau di sini..?"
Yang disapa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Namun Hatta tidak mau kawannya ini mengetahui jika dirinya bersedih. Dengan sekuat tenaga memendam kepedihan yang mencabik hati, Hatta berusaha menjawab Soekarno dengan wajar. Sedikit tersenyum menghibur.
"Ya, bagaimana keadaanmu, No?"
Hatta menyapanya dengan sebutan yang digunakannya di masa lalu. Tangannya memegang lembut tangan Soekarno. Panasnya menjalari jemarinya. Dia ingin memberikan kekuatan pada orang yang sangat dihormatinya ini.
Bibir Soekarno bergetar, tiba-tiba, masih dengan lemah, dia balik bertanya dengan bahasa Belanda. Sesuatu yang biasa mereka berdua lakukan ketika mereka masih bersatu dalam Dwi Tunggal.
"Hoe gaat het met jou...?" Bagaimana keadaanmu?
Hatta memaksakan diri tersenyum. Tangannya masih memegang lengan Soekarno.
Soekarno kemudian terisak bagai anak kecil.
Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, bagai bayi yang kehilangan mainan. Hatta tidak lagi mampu mengendalikan perasaannya. Pertahanannya bobol. Airmatanya juga tumpah. Hatta ikut menangis.
Kedua teman lama yang sempat berpisah itu saling berpegangan tangan seolah takut berpisah. Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang sangat dikaguminya ini tidak akan lama lagi. Dan Hatta juga tahu, betapa kejamnya siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya ini. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia yang
tidak punya nurani.
"No..."
Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya. Hatta tidak mampu mengucapkan lebih. Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kekecewaannya. Bahunya terguncang-guncang.
Jauh di lubuk hatinya, Hatta sangat marah pada penguasa baru yang sampai hati menyiksa bapak bangsa ini. Walau prinsip politik antara dirinya dengan Soekarno tidak bersesuaian, namun hal itu sama sekali tidak merusak persabatannya yang demikian erat dan tulus.
Hatta masih memegang lengan Soekarno ketika kawannya ini kembali memejamkan matanya.
Jarum jam terus bergerak. Merambati angka demi angka.
Sisa waktu bagi Soekarno kian tipis. Sehari setelah pertemuan dengan Hatta, kondisi Soekarno yang sudah buruk, terus merosot. Putera Sang Fajar itu tidak mampu lagi membuka kedua matanya. Suhu badannya terus meninggi. Soekarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. Malamnya Dewi Soekarno dan
puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, hadir di rumah sakit. Soekarno belum pernah sekali pun melihat anaknya.
Minggu pagi, 21 Juni 1970. Dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter kepresidenan seperti biasa melakukan pemeriksaan rutin. Bersama dua orang paramedis, Dokter Mardjono memeriksa kondisi pasien istimewanya ini. Sebagai seorang dokter yang telah berpengalaman, Mardjono tahu waktunya tidak akan lama lagi.
Dengan sangat hati-hati dan penuh hormat, dia memeriksa denyut nadi Soekarno. Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Soekarno menggerakkan tangan kanannya, memegang lengan dokternya. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi dari tangan yang amat lemah ini. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai. Detik itu juga Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Kedua matanya tidak pernah mampu lagi untuk membuka. Tubuhnya tergolek tak bergerak lagi. Kini untuk selamanya.
Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Udara sesaat terasa berhenti mengalir. Suara burung yang biasa berkicau tiada terdengar. Kehampaan sepersekian detik yang begitu mencekam. Sekaligus menyedihkan.
Dunia melepas salah seorang pembuat sejarah yang penuh kontroversi. Banyak orang menyayanginya, tapi banyak pula yang membencinya. Namun semua sepakat, Soekarno adalah seorang manusia yang tidak biasa. Yang belum tentu dilahirkan kembali dalam waktu satu abad. Manusia itu kini telah tiada.
Dokter Mardjono segera memanggil seluruh rekannya, sesama tim dokter kepresidenan. Tak lama kemudian mereka mengeluarkan pernyataan resmi:
Soekarno telah berpulang ke pangkuan sang pencipta
SURIA NATAADMADJA & ASSOCIATES
The East Building, 12th Floor,
Jl. Lingkar Mega Kuningan kav. E.3.2. no. 1,
Jakarta 12950, Indonesia
Posted by
Robby Zunaidy
at
2:24 PM
5
comments
