Secara psikologis Minis obsesi adalah dorongan dari dalam diri yang tidak bisa dikendalikan, dorongan atau pikiran tertentu yang tidak terkendali, terus menerus menghantui orang itu. Nah kalau sudah jadi perbuatan disebut kompulsif, secara ilmiah disebut gangguan jiwa atau penyakit.
Semakin obsesi ditekan itu makin tegang, makin tegang makin kuat obsesinya, makin kuat obsesinya makin ingin mengendalikan, makin dikendalikan makin kuat. Orang insomnia, makin ingin tidur makin nggak bisa ticlur, terus begitu. Oleh sebab itu sekarang istilah obsesi diartikan oleh mereka sebagai keinginan yang kuat yang tidak bisa tergantikan, terus menerus menjadi motivasi utama.
Keinginan atau hasrat itu sangat penting. Kalau nggak ada keinginan nggak akan ada apa-apa. Keinginan yang kuat itu sesuatu yang bermakna, sesuatu yang berharga, sesuatu yang penting sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang yang layak untuk diraih. Tapi obsesi itu bukan monopoli orang tertentu. Bukan pula hak khusus kaum elit secara social atau intelektual. Sebuah obsesi bisa menjadi milik seorang gelandangan yang hidupnya dengan serba kekurangan. Bahkan bila obsesi itu datang pads waktu yang sangat singkat.
Obsesi itu harus selalu kita kejar. Sependek atau sepanjang apa pun waktu yang diperlukan. Sampai tak ada yang bisa menghalangi obsesi itu kecuali kematian. Mungkin diantara kita, telah memiliki obsesinya masing-masing. Mungkin yang lain sedang mencari. Yang lain lagi mungkin sedang menanti saatsaat yang dirasa tepat. Tapi momentum itu sesungguhnya bisa hadir setiap saat, dari keseharian kita yang mungkin biasa-biasa saja.
Pedalanan hidup ini memerlukan tenaga, kehendak dan cita-cita. Itu bahkan menjadi ruhbagi keseluruhan denyutnya. Bahkan orang jahat yang mengisi belantara bumf ini pun membangun kehendaknya dengan nyaris tanpa henti. Mereka orang-orang yang tak pernah kalah kecuali oleh kematian. Meski kejahatan yang mereka bangun itu bukanlah kemenangan bagi kehidupan. Tapi mereka sangat mengerti, untuk menjadi penjahat ulung, perlu obsesi clan keda keras.
Pasti, tidak muclah menjadi orang yang obsesif. Yang terus maju mengejar puncak cita-cita dan kemuliaannya. Ada begitu banyak anak tangga, yang harus; diinjak. Ada sangat banyak beban yang harus dipikul. Jalan kemuliaan orangorang obsesif itu memang sangat melelahkan
Begitulah. Mungkin kebanyakan kita bisa jadi bukan siapa-siapa. Mungkin tak ada yang mengenal diri kita. Setiap kita bisa mengambil pilihan obsesinya, melalui peran-peran pribadi atau kolektiJ yang berbeda. Lalu sesudah itu, mengejarnya, terus dan terus, hingga hanya kematian yang dapal menghentikannya.
Pads sebagian orang, kehendak dan cita-cita besar, mungkin sekedar soal mental. Mereka seperti terlahir dengan bakat menjadi orang besar. Tapi lebih dari itu, ada. banyak keterampilan hidup yang hanya bisa dicari dibelantara dunia ini, dengan belajar, mencoba dan berlatih. Maka, pads sebagian besar yang lain, menjadi orang-orangobsesif tidaklah sederhana. Mungkin seperti kebanyakan kita, yang terlahir dengan bakat seadanya, lalu hidup dilingkungan orang-orang yang obsesinya jugs seadanya.
Tetapi pintu itu belum tertutup, jalan kepuncak ketinggian itu masih terbuka. Sepanjang Alloh masih belum menghentikan kehidupan ini, masih terbentang harapan, untuk kita menjadi manusia muslim dengan segala obsesi kemuliaannya. berdo\a setulus hati kepada Alloh SWT adalah penyeimbang dari keseluruhan keda keras kita mengejai cita-cita.
Wednesday, May 30, 2012
YANG TAK PERNAH KALAH KECUALI OLEH KEMATIAN
Posted by
Robby Zunaidy
at
2:51 AM
1 comments
Tuesday, May 29, 2012
Ayah, Kembalikan Tangan Dita
Sepasang suami isteri seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan cantik berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya karena sibuk bekerja di dapur. Bermainlah dia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya. Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan, tetapi karena lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi anak-anak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya. Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke tempat kerja karena ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan mobil sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah. Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih lama lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi. Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “DIta yg membuat gambar itu ayahhh.. cantik …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja seperti biasa. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa… Si ayah cukup lama memukul-mukul tangan kanan dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, dia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih saat luka2nya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan agar ia dibawa ke rumah sakit karena keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena sakitnya sudah terlalu parah. “Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan lagi. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah.. sayang ibu.”, katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuat wanita itu meraung histeris. “Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita janji tdk akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti?… Bagaimana Dita mau bermain nanti?… Dita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi, ” katanya berulang-ulang. Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada manusia dapat menahannya. Nasi sudah jadi bubur. Pada akhirnya si anak cantik itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf. Buat anda yang telah menjadi orang tua dan atau calon orang tua. Ingatlah….semarah apapun anda, janganlah bertindak berlebihan. Sebagai orang tua, kita patut untuk saling menjaga perbuatan kita especially pada anak2 yg masih kecil karena mereka masih belum tahu apa2. dan ingatlah, anak adalah anugrah dan amanah yang dititipkan oleh TUHAN untuk kita. —
Baca Selengkapnya......
Posted by
Robby Zunaidy
at
6:38 PM
0
comments
Friday, July 9, 2010
Menangis

Sehabis sesiangan bekerja di sawah-sawah serta disegala macam yang
diperlukan oleh desa rintisan yang mereka dirikan jauh di pedalaman, Abah
Latif rnengajak para santri untuk sesering mungkin bershalat malam.
Senantiasa lama waktu yang diperlukan, karena setiap kali memasuki kalimat
"iyyaka na'budu..." Abah Latif biasanya lantas menangis tersedu-sedu bagai
tak berpenghabisan.
Sesudah melalui perjuangan batin yang amat berat untuk melampaui kata itu,
Abah Latif akan berlama-lama lagi macet lidahnya mengucapkan "wa iyyaka
nasta'in..."
Banyak di antara jamah yang bahkan terkadang ada satu dua yang lantas ambruk
ke lantai atau meraung-raung.
"Hidup manusia harus berpijak, sebagaimana setiap pohon harus berakar",
berkata Abah Latif seusai wirid bersama, "Mengucapkan kata-kata itu dalam
al-Fatihah pun harus ada akar dan pijakannya yang nyata dalam
kehidupan.'Harus' di situ titik beratnya bukan sebagai aturan,melainkan
memang demikianlah hakekat alam, di mana manusia tak bisa berada dan berlaku
selain di dalam hakekat itu"'.
"Astaghfirullah, astaghfirullah" , geremang turut menangis mulut para
santri.
"Jadi, anak-anakku" , beliau melanjutkan, "apa akar dan pijakan kita dalam
rnengucapkan kepada Allah iyyaka na'budu?"
"Bukankah tak ada salahnya mengucapkan sesuatu yang toh baik dan merupakan
bimbingan Allah itu sendiri, Abah?", bertanya seorang santri.
"Kita tidak boleh mengucapkan kata, Nak, kita hanya boleh mengucapkan
kehidupan".
"Belum jelas benar bagiku, Abah".
"Kita dilarang mengucapkan kekosongan, kita hanya diperkenankan mengucapkan
kenyataan".
"Astaghfirullah, astaghfirullah" , geremang mulut para santri terhenti
ucapannya, Dan Abah Latif meneruskan, "Sekarang ini kita mungkin sudah
pantas mengucapkan iyyaka a'budu. Kepada-Mu aku menyembah. Tetapi Kaum
Muslimin masih belum memiliki suatu kondisi keumatan untuk layak berkata
kepada-Mu kami menyembah, na'budu".
"Al-Fatihah haruslah mencerminkan proses dan tahapan pencapaian sejarah kita
sebagai diri pribadi serta kita sebagai umatan wahidah. Ketika sampai di
kalimat na'budu, tingkat yang harus kita capai telah lebih dari 'abdullah,
yakni khalifatullah. Suatu maqam yang dipersyarati oleh kebersamaan Kaum
Muslimin dalam menyembah Allah di mana penyembahan itu diterjemahkan ke
dalam setiap bidang kehidupan. Mengucapkan iyyaka na'budu dalam shalat
mustilah memiliki akar dan pijakan di mana kita Kaum Muslimin telah membawa
urusan rumah tangga, urusan perniagaan, urusan sosial dan politik serta
segala urusan lain untuk menyembah hanya kepada Allah. Maka, anak-anakku,
betapa mungkin dalam keadaan kita dewasa ini lidah kita tidak kelu dan
airmata tak bercucuran tatkala harus mengucapkan kata-kata itu?"
"Astaghfirullah, astaghfirullah" , geremang mulut para santri.
"Al-Fatihah hanya pantas diucapkan apabila kita telah saling menjadi
khalifatullah di dalam berbagai hubungan kehidupan. Tangis kita akan
sungguh-sungguh tak berpenghabisan karena dengan mengucapkan wa iyyaka
nasta'in, kita telah secara terang-terangan menipu Tuhan. Kita berbohong
kepada-Nya berpuluh-puluh kali dalam sehari. Kita nyatakan bahwa kita
meminta pertolongan hanya kepada Allah, padahal dalam sangat banyak hal kita
lebih banyak bergantung kepada kekuatan, kekuasaan dan mekanisme yang pada
hakekatnya melawan Allah".
"Astaghfirullah, astaghfirullah" , gemeremang para santri.
"Anak-anakku, pergilah masuk ke dalam dirimu sendiri, telusurilah
perbuatan-perbuatan mu sendiri, masuklah ke urusan-urusan manusia di
sekitarmu, pergilah ke pasar, ke kantor-kantor, ke panggung-panggung dunia
yang luas: tekunilah, temukanlah salah benarnya ucapan-ucapanku kepadamu.
Kemudian peliharalah kepekaan dan kesanggupan untuk tetap bisa menangis.
Karena alhamdulillah seandainya sampai akhir hidup kita hanya diperkenankan
untuk menangis karena keadaan-keadaan itu: airmata saja pun sanggup
mengantarkan kita kepada-Nya". !
Emha Ainun Nadjib,
Panji Masyarakat, 2005
Posted by
Robby Zunaidy
at
3:02 PM
1 comments
Wednesday, June 30, 2010
Indahnya Ta'aruf Secara Islami
Sengaja kugoreskan tulisan ini, kado untuk teman-teman ku yang sedang ta’aruf, atau yang akan melakukan ta’aruf secara Islami. Juga bagi pasangan yang sudah pernah melakukan ta’aruf Islami,kado tulisan ini kupersembahkan sebagai kenang-kenangan yang terindah yang pernah dilalui dahulu. Kudoakan semoga Allah SWT selalu memudahkan dan melancarkan ta’aruf Islami yang sedang atau akan berlangsung. Bagi pasangan yang sudah melakukan ta’aruf Islami, semoga langgeng pernikahannya, hingga kematianlah yang memisahkan kita dari pasangan kita. Aamiin
Bagi setiap aktivis da’wah, yang sudah memilih da’wah sebagai jalan hidupnya, tentunya harus memiliki kepribadian Islamiyyah yang berbeda dengan orang-orang yang belum tarbiyah tentunya. Salah satu akhlak (kepribadian Islami) yang harus dimiliki setiap ikhwan atau akhwat adalah ketika memilih menikah tanpa pacaran. Karena memang dalam Islam tidak ada konsep pacaran, dengan dalih apapun. Misalnya, ditemani orang tualah, ditemani kakak atau adiklah sehingga tidak berdua-duan. Semua sudah sangat jelas dalam Alqur’an surat Al Isra ayat 32 yang artinya ”Dan janganlah kamu mendekati zina ; (zina) itu sungguh perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.”. Apalagi sudah menjadi fihtrah bagi setiap pria pasti memiliki rasa ketertarikan pada wanita begitu pula sebaliknya. Namun Islam memberikan panduan yang sangat jelas demi kebaikan ummatnya. Mampukah tiap diri kita menata semua, ya perasaan cinta, kasih sayang benar-benar sesuai dengan syari’ah? Dalam buku Manajemen Cinta karya Abdullah Nasih Ulwan, juga disebutkan, cinta juga harus dimanage dengan baik, terutama cinta pada Allah SWT, Rasulullah SAW, cinta terhadap orang-orang shalih dan beriman. Jadi tidak mengumbar cinta secara murahan atau bahkan melanggar syariat Allah SWT.
Lalu bagaimanakah kiat-kita ta’aruf Islami yang benar agar nantinya tercipta rumah tangga sakinah mawaddah warohmah,:
1.Melakukan Istikharoh dengan sekhusyu-khusyunya
Setelah ikhwan mendapatkan data dan foto, lakukanlah istikharoh dengan sebaik-baiknya, agar Allah SWT memberikan jawaban yang terbaik. Dalam melakukan istikharoh ini, jangan ada kecenderungan dulu pada calon yang diberikan kepada kita. Tapi ikhlaskanlah semua hasilnya pada Allah SWT. Luruskan niat kita, bahwa kita menikah memang ingin benar-benar membentuk rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah. Seseorang biasanya mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang diniatkannya.
2.Menentukan Jadwal Pertemuan (ta’aruf Islami)
Setelah Ikhwan melakukan istikharoh dan adanya kemantapan hati, maka segerlah melaporkan pada Ustadz, lalu Ustadz pun memberikan data dan foto kepada Ustadzah (guru akhwat), dan memberikan data dan foto ikhwan tersebut kepada Akhwat. Biasanya akhwat yang memang sudah siap, Insya Allah setelah istikharoh juga segera melaporkan kepada Ustadzahnya. Lalu segeralah atur jadwal pertemuan ta’aruf tersebut. Bisa dilakukan di rumah Ustadzah akhwatnya. Memang idealnya kedua pembimbing juga hadir, sebagai tanda kasih sayang dan perhatian terhadap mutarabbi (murid-murid). Hendaknya jadwal pertemuan disesuaikan waktunya, agar semua bisa hadir, pilihlah hari Ahad, karena hari libur.
3.Gali pertanyaan sedalam-dalamnya
Setelah bertemu, hendaknya didampingi Ustadz dan Ustadzah, lalu saling bertanyalah sedalam-dalamnya, ya bisa mulai dari data pribadi, keluarga, hobi, penyakit yang diderita, visi dan misi tentang rumah tangga. Biasanya pada tahap ini, baik ikhwan maupun akhwat agak malu-malu dan grogi, maklum tidak mengenal sebelumnya. Tapi dengan berjalannya waktu, semua akan menjadi cair. Peran pembimbing juga sangat dibutuhkan untuk mencairkan suasana. Jadi tidak terlihat kaku dan terlalu serius. Dibutuhkan jiwa humoris, santai namun tetap serius.
Silakan baik ikhwan maupun akhwat saling bertanya sedalam-dalamnya, jangan sungkan-sungkan, pada tahap ini. Biasanya pertanyaan-pertanyaan pun akan mengalir.
4.Menentukan waktu ta’aruf dengan keluarga akhwat
Setelah melakukan ta’aruf dan menggali pertanyaan-pertanyaan sedalam-dalamnya, dan pihak ikhwan merasakan adanya kecocokan visi dan misi dengan sang akhwat, maka ikhwan pun segera memutuskan untuk melakukan ta’aruf ke rumah akhwat, untuk berkenalan dengan keluarga besarnya. Ini pun sudah diketahui oleh Ustadz maupun Ustadzah dari kedua belah pihak. Jadi memang semua harus selalu dikomunikasikan, agar nantinya hasilnya juga baik. Jangan berjalan sendiri. Sebaiknya ketika datang bersilaturahim ke rumah akhwat, Ustadz pun mendampingi ikhwan sebagai rasa sayang seorang guru terhadap muridnya. Tetapi jika memang Ustadz sangat sibuk dan ada da’wah yang tidak bisa ditinggalkan, bisa saja ikhwan didampingi oleh teman pengajian lainnya. Namun ingat,ikhwan jangan datang seorang diri, untuk menghindarkan fitnah dan untuk membedakan dengan orang lain yang terkenal di masyarakat dengan istilah ’ngapel’ (pacaran).
Hendaknya waktu ideal untuk silaturahim ke rumah akhwat pada sore hari, biasanya lebih santai. Tapi bisa saja diatur oleh kedua pihak, kapan waktu yang paling tepat untuk silaturahim tersebut.
5.Keluarga Ikhwan pun boleh mengundang silaturahim akhwat ke rumahnya
Dalam hal menikah tanpa pacaran, adalah wajar jika orang tua ikhwan ingin mengenal calon menantunya (akhwat). Maka sah-sah saja, jika orang tua ikhwan ingin berkenalan dengan akhwat (calon menantunya). Sebaiknya ketika datang ke rumah ikhwan, akhwat pun tidak sendirian, untuk menghindari terjadinya fitnah. Dalam hal ini bisa saja akhwat ditemani Ustadzahnya ataupun teman pengajiannya sebagai tanda perhatian dan kasih sayang pada mutarabbi.
6.Menentukan Waktu Khitbah
Setelah terjadinya silaturahim kedua belah pihak, dan sudah ada kecocokan visi dan misi dari ikhwan dan akhwat juga dengan keluarga besanya, maka jangalah berlama-lama. Segeralah tentukan kapan waktu untuk mengkhitbah akhwat. Jarak waktu antara ta’aruf dengan khitbah, sebaiknya tidak terlalu lama, karena takut menimbulkan fitnah.
7.Tentukan waktu dan tempat pernikahan
Pada prinsipnya semua hari dan bulan dalam Islam adalah baik. Jadi hindarkanlah mencari tanggal dan bulan baik, karena takut jatuh ke arah syirik. Lakukan pernikahan sesuai yang dicontohkan Rasulullah SAW, yaitu sederhana, mengundang anak yatim, memisahkan antara tamu pria dan wanita, pengantin wanita tidak bertabarruj (berdandan),makanan dan minuman juga tidak berlebihan.
Semoga dengan menjalankan kiat-kiat ta’aruf secara Islami di atas, Insya Allah akan terbentuk rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah…yang menjadi dambaan setiap keluarga muslim baik di dunia maupun di akhirat.
Teriring doaku yang tulus kepada ikhwah dan akhwat fillah yang akan melangsungkan pernikahan kuucapkan ”Baarokallahu laka wa baaroka ’alaika wajama’a bainakumaa fii khoirin..
Dan bagi sahabat-sahabatku yang belum menikah, teriring doa yang tulus dari hatiku, semoga Allah SWT memberikan jodoh yang terbaik untuk semua baik di dunia maupun di akhirat..Aamiin ya Robbal ’alamiin (Catatan Ayoe Zoete:)
Posted by
Robby Zunaidy
at
9:56 AM
0
comments
Saturday, March 27, 2010
Jujur Pada Diri Sendiri, Proses Therapy Perasaan Gak Enakan
Semoga hari yang berhagia ini, semakin menambah nilai-nilai kebaikan bagi kita. Mudah-mudahan setiap detik sejarah telah terukir dalam simpanan energi semesta, Menjadikan kita lebih berkarakter mulia. Diantaranya semakin bertambah kejujuran baik kepada diri sendiri atau kepada orang lain.
Seorang shahabat saya menjadikan “Keputusan yang dibuat manusia / diambil oleh seseorang mempengaruhi kehidupan orang lain” sebagai tema penelitian ilmiahnya. Tema yang sederhana, tapi memiliki makna yang dalam, jika kita kaji dari ranah spiritual.
Tema diatas mengingatkan saya tentang tujuan penciptaan manusia yang Allah terangkan di Al-Baqarah : Kahlifah. Sebagai khalifah wajib menyadari akan keputusan-keputusan yang diambil untuk menyeimbangkan kehidupan dunia.
Sementara itu, saat saya menuliskan note yang sedang anda baca sekarang. Terbesit sesuatu dalam fikiran saya. Itu tatkala merenungi tentang makna kejujuran. Mungkin anda pernah mendengar judul sebuah buku ”Jujur mata uang yang hilang” atau mungkin kata bijak yang lain berhubungan dengan kejujuran.
Sebuah pertanyaan kontemplasi bagi diri, Sudahkah saya jujur?. Saya tidak tau bagaimana dengan prinsip hidup anda. Apakah anda senang dengan kejujuran? Saya yakin dan percaya, kejujuran adalah pengantar kepada pintu kepercayaan.
Berbohong pada diri sendiri
”Hindari bohong, Jujurlah pada diri sendiri”. Nasehat yang saya dapatkan dari Tengku di di menasah saat belajar membaca Al-Qur’an, dan mengaji kitab Masailal Muhtadin dan Tanbiqhul Ghafilin. Bahkan juga diulang-ulang oleh ustaz saya di Ma’had Ruhul Islam.
Ibda binafsik, mulai dari diri sendiri. Pesan Rasulullah untuk melakukan perubahan. Sekarang saya sadari, ini awal dari kemuduran dan gelapnya hati. Demi membahagiakan orang lain, sudi kiranya membohongi diri sendiri. Agar menyenangi teman, rela berkata tidak sesuai dengan hati. Supaya membahagiakan shahabat, mengikhlaskan penderitaan diri.
Bukan persoalan salah dan benar, Melainkan cara menyikapi dan meletakkan sesuatu pada tempatnya. Guru saya di Pondok Pesantren NLP Pasar Minggu. Sering membingkai pembelajaran demikian.
Jujur adalah pintu kesadaran dan hakekat kesuksesan hidup.
Mungkin ”Katakan kebenaran, walau itu pahit (sakit untuk didengar, sulit diterima atau bahkan ditolak)” adalah penjabaran dari anjuran berlaku Jujur pada diri sendiri. Ada hal-hal menarik yang saya temukan, saat membantu shahabat menyelesaikan persoalannya. Yang kini menjadi pembelajaran hidup.
Ada keluhan ingin berlari dari hiruk pikuk tuntutan target pekerjaan. Ada juga seorang bapak-bapak berucap, Saya mau merdeka dari tuntutan orang lain. Pernah juga teman menyampaikan, Aku ingin orang tua mengerti kemauanku. Saya sendiripun dulu pernah bertanya, Sampai kapan saya harus mengikuti kemauan bukan diri saya sendiri.
Seorang wanita tidak mampu menolak menerima calon suami dari ayah ibunya. Pernah juga, seorang teman lelaki, melepaskan wanita yang dicintainya demi membahagiakan ibunya dengan menikahi wanita bukan pujaan hatinya. Tidak sedikit, saya berjumpa dan mendengar curhatan para pekerja, yang beraktivitas bukan pada bidang yang disukainya.
Pakar kejiwaan pernah bertutur ”Orang-orang yang bekerja pada bidang yang dia cintai dan senangi, memiliki kesempatan hidup lebih lama”
Guru saya bapak Noeryanto, Pengasuh Pondok Pesantren NLP Pasar Minggu mengingatkan ”Saat ayam (binatang) memahami kodratnya sebagai ayam, dan manusia memahami kodratnya sebagai manusia (khalifah). Maka keseimbangan alam terjadi. Itulah mamfaat KESADARAN”
Dari kejadian dan peristiwa diatas. Saya menemukan satu hal, bahwa Jujur kepada diri sendiri bisa sebagai proses Therapy Perasaan Gak Enakan.
Sekali lagi, ini bukan persoalan Salah atau benar, melaikan cara menyikapi dan meletakkan sesuatu pada tempatnya. Mungkin, shahabat saya mengambil tema penelitiannya “Keputusan yang dibuat manusia / diambil oleh seseorang mempengaruhi kehidupan orang lain” atas dasar kontemplasi diri yang amat dalam. Terlepas dari itu semua, hadir pertanyaan kontemplasi diri ; Sampai kapan saya berlaku Bohong dan Tidak jujur pada diri sendiri?
Wallahu’alam
RAHMADSYAH, CM.NLP
Motivator & Mind-Therapist I 081511448147 YM;rahmad_aceh
www.facebook. com/rahmadsyah
Bogor 23 Maret 2010
Posted by
Robby Zunaidy
at
5:51 PM
0
comments
INDAHNYA HARIKU
Ku jelang pagi ini, dengan senyum penuh ketulusan
Kan kujalani hari ini dengan semangat penuh keikhlasan
Mencoba membuka mata, membuka hati, mencoba menguntai kata
Begitu luas hamparan untukku mewujudkan mimpi hati
Biarlah kugantungkan segala asa yang ada pada cakarawala
Biarlah ku jaga rasa cinta yang ada dalam indahnya balutan awan putih
Hingga dengannya kan gapai segala doa
Dan bersamanya hidup semakin ku rasa bahagia
Teduhnya warna biru berhias awan putih tanpa batas
Hijau rumput laksana permadani pelengkap teman mimpi
Canda kicau burung di sela kepakan sayap yang melintas di langit bebas
Bisikan angin yang bertiup begitu memanjakan
Sungguh membuaiku dalam pelukan alam luas
Tuhan ...
Ku bahagia atas nikmat-Mu
Ku bersyukur atas karunia-Mu
Biarlah semua ini tetap bisa kumiliki
Ijinkan semua ini tetap bisa aku nikmati
Karena Kau tau, saat semua itu tak lagi menemaniku
Hariku akan berubah menjadi sepi tanpa arti
-------Catatan Mohammad Zuher-------
Posted by
Robby Zunaidy
at
5:29 PM
0
comments
Wednesday, March 24, 2010
Fenomena Koruptor Religius
*ADA* fakta ganjil yang sudah lama berlangsung di Indonesia: agama
sering menjadi selimut atau topeng untuk menutupi tindakan korupsi.
Misalnya, kaum koruptor tampak rajin melaksanakan ritual agama dengan
melibatkan tokoh-tokoh agama dan masyarakat sekitarnya seperti
menyelenggarakan acara doa bersama atau acara syukuran.
Bahkan, ketika membangun rumah, banyak koruptor yang tidak lupa
membangun tempat ibadah di lingkungan tempat tinggalnya. Jika dicermati
lebih serius, tidak ada koruptor di Indonesia yang tidak beragama.
Karena itu, ada pertanyaan yang layak diutarakan: kenapa seseorang bisa
menjadi koruptor sekaligus rajin beribadah? Adakah hubungan antara agama
dan korupsi?
*Kamuflase *
Bagi kaum moralis, fenomena koruptor yang rajin beribadah mungkin akan
dipandang sebagai bentuk pelecehan terhadap agama. Dalam hal ini, para
koruptor sengaja memfungsikan agama sebagai kamuflase atas
kejahatannya. Tentu saja, fenomena demikian bukan hal yang aneh dan baru
dalam sejarah agama-agama.
Seperti dalam Islam, sejak awal masa perkembangannya, stigma munafik
telah diperkenalkan. Stigma itu diberikan kepada orang yang sengaja
memfungsikan Islam hanya sebagai kamuflase. Dalam Islam, orang
munafik dianggap musuh paling berbahaya bagi kaum muslimin. Ibarat
musuh dalam satu selimut yang selalu siap mencelakakan kapan saja.
Dengan demikian, dalam Alquran maupun hadis, banyak disebutkan bahwa
kaum munafik adalah kaum yang sangat dikutuk oleh Allah SAW.
Jika faktanya sekarang di Indonesia banyak koruptor yang beragama Islam,
agaknya layak diduga, mereka tergolong kaum munafik. Bila mereka pernah
atau sedang menjadi pejabat-pejabat penting, bangsa dan negara
Indonesia, sepertinya, juga layak ditengarai sebagai ikut-ikutan
terkutuk, dengan bukti seringnya terjadi bencana atau tragedi kemanusiaan.
Banyaknya fakta bahwa para koruptor rajin beribadah, khususnya
mengadakan acara doa bersama atau acara syukuran, ada kesan bahwa para
pemuka agama seolah-olah ikut mengamini tindakan korupsi. Kesan tersebut
bisa saja menyakitkan, tapi agaknya tetap layak diungkapkan. Sebab, itu
didukung fakta yang cenderung semakin fenomenal.
Fenomena memfungsikan agama sebagai kamuflase serta kemunafikan para
koruptor sering sangat mudah dilihat setiap menjelang kampanye pemilu
(dan belakangan pilkada). Misalnya, betapa banyak elite politik yang
terindikasi korup berlomba-lom ba merangkul pemuka-pemuka agama. Betapa
banyak elite politik yang terindikasi korup berlomba-lomba memberikan
sumbangan dana pembangunan fasilitas peribadatan atau sarana pendidikan
agama. Dalam hal ini, semua pemuka agama justru gembira (dan tidak ada
yang keberatan atau sekadar mengkritik perilaku munafik).
Karena itu, wajar-wajar saja jika ada yang bilang bahwa pemuka-pemuka
agama sekarang akan senang-senang saja menerima sumbangan dana meski si
pemberi jelas-jelas seorang koruptor!
*Kontradiksi *
Beberapa tahun lalu, dari lingkungan sebuah organisasi keagamaan, muncul
fatwa bahwa koruptor yang meninggal dunia tidak wajib disalati.
Pasalnya, koruptor identik dengan munafik. Fatwa demikian selayaknya
menjadi otokritik. Sebab, selama ini banyak koruptor yang gemar
mendatangi kiai-kiai untuk memberikan sumbangan dana pembangunan masjid
dan pondok pesantren. Mereka bermaksud mendapatkan dukungan politik dari
kiai dan pengikut mereka.
Adanya fatwa dan perilaku kemunafikan tersebut tentu saja merupakan
kontradiksi yang bisa saja akan membingungkan masyarakat awam. Bagaimana
mungkin pemuka agama bisa akur dengan koruptor?
Dengan demikian, agaknya, juga perlu segera ada fatwa baru untuk
menjelaskan kontradiksi tersebut, agar ke depan tidak semakin
membingungkan masyarakat awam. Sejauh ini, kontradiksi itu memang belum
pernah dikaji secara serius oleh komunitas-komunitas keagamaan di
Indonesia. Bahkan, belum ada pemuka agama yang mempersoalkan kontradiksi
tersebut secara terbuka. Dengan begitu, hal ini pun kemudian mengundang
pertanyaan baru: benarkah telah terjadi kompromi antara koruptor dan
kalangan pemuka agama, karena sebagian hasil korupsi digunakan untuk
mendanai kepentingan pengembangan agama?
*Revitalisasi Agama *
Fenomena semakin merajalelanya korupsi cenderung dibiarkan oleh
pemuka-pemuka agama karena, sepertinya, telanjur dianggap bukan masalah
yang perlu dipersoalkan lagi. Jika kini sejumlah perangkat hukum yang
ada tidak bisa memberantasnya, sepertinya, perlu dilakukan upaya-upaya
alternatif. Misalnya, melakukan revitalisasi agama oleh kalangan pemuka
agama. Langkah-langkahnya sebagai berikut. Pertama, memandirikan semua
organisasi keagamaan di Indonesia dengan menerapkan sikap tegas untuk
tidak menerima sumbangan dana dari pihak-pihak yang terindikasi korup.
Kedua, pemuka-pemuka agama menolak terlibat dalam politik praktis dengan
cara tidak bergabung atau sekadar bersimpati kepada kekuatan politik
yang korup. Dalam hal ini, pada saat menjelang pemilu atau pilkada,
pemuka agama harus netral dan tidak mendukung secara langsung maupun
tidak langsung yang menguntungkan para koruptor.
Ketiga, mengembangkan sikap kritis masyarakat terhadap indikasi-indikasi
korupsi agar tidak memberikan dukungan politik kepada siapa pun yang
terindikasi korup.
Keempat, pemuka agama serta umat beragama segera memutuskan hubungan
dengan semua pejabat negara yang terindikasi korup. Dalam hal ini,
menolak tegas undangan doa bersama atau acara syukuran yang
diselenggarakan oleh pejabat negara yang terindikasi korup. Dengan cara
demikian, ada kemungkinan kaum koruptor tidak semakin ugal-ugalan
menjadikan agama sebagai kamuflase.
Dengan revitalisasi agama, fenomena koruptor tampak religius yang
identik dengan merajalelanya kaum munafik dalam melakukan korupsi
berjamaah mungkin akan segera dapat dikikis habis. (*)
* /*). Anita Retno Lestari/ * /, direktur Lembaga Studi Humaniora/
Posted by
Robby Zunaidy
at
9:28 PM
0
comments
DINDING YANG KOSONG
.... kisah yang sangat layak untuk disimak Ada dua orang pasien pria yang menderita sakit parah. Mereka dirawat di rumah sakit yang sama. Pria pertama diizinkan duduk di tempat tidurnya setiap sore selama satu jam. Tujuannya adalah agar cairan dari paru-parunya bisa dikeluarkan.
Tempat tidurnya terletak di dekat satu-satunya jendela yang ada di kamar itu.
Sedang pria yang kedua harus selalu berbaring dalam keadaan terlentang. Karena di antara dua tempat tidur ada dinding pemisah yang cukup tinggi, pria yang tidur terlentang tidak bisa melihat ke jendela.
Kedua orang pria tersebut sering mengobrol. Macam-macam hal yang mereka bicarakan. Dari mengenai istri, keluarga, rumah, pekerjaan, wajib militer sampai tempat-tempat yang dikunjungi saat liburan.
Sore hari, saat pria yang menempati tempat tidur dekat jendela diizinkan duduk, dia bercerita ke teman sekamarnya. Ia melaporkan apa-apa yang dilihatnya di balik jendela.
Pria yang hanya bisa terlentang lama-kelamaan bisa menikmati cerita temannya. Selama satu jam sehari, cara pandangnya diperluas dan dihidupkan kembali dengan mendengarkan tentang kegiatan dan warna-warni dunia luar. Jendela itu menghadap ke sebuah taman.
Di taman itu juga ada sebuah danau yang indah dengan bebek-bebek dan angsa-angsa yang berenang di atasnya. Anak-anak bermain dengan mainan kapal layarnya.
Pasangan suami isteri yang sedang dimabuk asmara berjalan sambil bergandengan tangan di antara bunga-bunga yang berwarna-warni bagaikan warna pelangi. Beberapa pohon besar tumbuh di atas rerumputan. Pemandangan indah kota terlihat dari kejauhan.
Pria yang berada di dekat jendela menceritakan semua ini dengan amat rinci. Pria yang mendengarkan, menutup matanya sambil membayangkan pemandangan- pemandangan yang dituturkan rekannya.
Di suatu hari yang cukup terik, pria yang menempati tempat tidur dekat jendela melaporkan tentang sebuah pawai yang lewat di sana.
Pria yang kedua tidak bisa mendengar musik bandnya. Namun, dia bisa melihat mereka dengan mata batinnya. Ia seakan melihat badut-badut yang menari-nari, bendera yang berwarna-warni serta mobil dan kuda yang dihias.
Hari pun berlalu. Di dalam hati pria yang tidak bisa melihat ke jendela diam-diam timbul rasa iri atas cerita-cerita yang disampaikan oleh teman sekamarnya, karena dia ingin sekali melihat sendiri semua yang diceritakannya.
Dia pun mulai membenci teman sekamarnya, karena dia ingin sekali melihat sendiri semua yang diceritakannya. Dia pun mulai membenci teman sekamarnya dan merasa frustasi. Dia juga ingin menempati tempat tidur di dekat jendela!
Pada suatu pagi seorang juru rawat masuk ke kamarnya. Pria yang ditempatkan di dekat jendela ditemukan meninggal dengan tenang pada saat tidur. Dengan rasa sedih dia memanggil pegawai rumah sakit untuk memindahkan jenazahnya.
Setelah dianggap tepat waktunya, pria yang masih dirawat menanyakan apakah dia bisa dipindahkan ke tempat tidur dekat jendela. Perawat tidak berkeberatan untuk memindahkannya dan setelah yakin pasiennya dalam posisi yang aman, dia meninggalkannya sendirian.
Pelan-pelan, sambil menahan rasa sakit, dia berupaya mengangkat tubuhnya dengan satu siku lengannya untuk melihat pertama kalinya dunia di luar jendela. Ia pikir, akhirnya dia bisa juga menikmati kebahagiaan saat melihat taman di luar dan semua kegiatan yang ada. Dia berusaha untuk melongok..
Namun ia menjadi amat terkejut karena ternyata yang dilihatnya hanya dinding yang kosong. Dia segera memanggil suster dan bertanya, “Bagaimana teman sekamar saya bisa melihat semua yang diceritakannya kepada saya? Bagaimana dia bisa menceritakan kepada saya tentang segala keindahan sampai yang sekecil-kecilnya, padahal saya hanya melihat dinding batu bata yang kusam!
”Perawat itu menjawab, “Lho, memang Bapak tidak tahu? Mantan teman sekamar Bapak kan buta, jadi dinding pun tidak mungkin bisa dilihatnya.” Kemudian sang perawat menambahkan, “Mungkin dia hanya ingin membesarkan hati Bapak saja.
”Apakah Anda bisa merasakan emosi yang terkandung dalam cerita ini?
Apakah pernah terpikir oleh Anda untuk menukar posisi Anda dengan posisi orang lain karena merasa iri kepada orang tersebut.
Apakah Anda pernah merasa demikian kecewa,misalnya Anda menyangka sesuatu itu begitu indah, tetapi kenyataannya tidak seperti yang Anda bayangkan?
Apakah Anda pernah diberi kata-kata pemberi semangat, tetapi Anda tidak pernah mau mensyukurinya?
Kalau hidup Anda terobsesi oleh segala yang dimiliki orang lain, maka Anda tidak merasakan indahnya hal-hal yang akan diberikan oleh orang lain kepada Anda.
Di zaman sekarang ini banyak sekali orang yang ingin memiliki apapun yang dimiliki orang lain. Ingin suami atau istri seperti yang dimiliki orang lain, ingin pekerjaan seperti pekerjaan orang lain, ingin penghargaan seperti yang telah diterima orang lain, ingin popularitas seperti yang diraih oleh orang lain, rumah yang dimiliki orang lain, posisi yang dimiliki oleh orang lain.
Sering pula mereka ingin hal-hal yang mereka anggap ada di dalam diri orang lain. Misalnya, kebahagiaan, rasa memiliki tujuan, kedamaian pikiran, rasa cinta dan kenyamanan. Yang sebenarnya adalah bahwa di setiap situasi pasti ada masalah, di setiap kehidupan pasti ada rintangan, di setiap hubungan pasti ada kesulitan, di setiap kesempatan pasti ada tantangan atau masalah yang berat.
Pada dasarnya, pada setiap aspek yang positif selalu ada tandingannya yang bersifat negatif. Karena itu, tidak mungkin ada orang yang bebas dari masalah kehidupan.
Kalau begitu, bagaimana sikap kita dalam menghadapi hal ini?#
Jadilah orang yang PANDAI BERSYUKUR untuk apa yang SUDAH ANDA MILIKI saat ini.#
Bersikaplah POSITIF atas semua keadaan, karena KEBAHAGIAAN itu BUKAN DI LUAR DIRI tetapi ADA di DALAM DIRI. (Dari buku ‘Piano on the Beach’ karangan Jim Dornan)
Sent from my BlackBerry®
Posted by
Robby Zunaidy
at
8:59 PM
0
comments
Tuesday, February 23, 2010
KEMERDEKAAN YANG BERAQIDAH
Awalnya kata Merdeka berasal dari bahasa Sansekerta “Mahardhika” berarti sangat berjaya, berkuasa atau bijaksana. Dalam bahasa jawa kuno arti kata ini bergeser sedikit dan bermakna bijaksana, pandai, terhormat, pendita dan tidak tunduk pada seseorang selain kepada Tuhan atau Raja, maka mulai berarti bebas. Dan dalam bahasa Melayu “Merdika” memperoleh arti bebas, maksudnya bukan budak. Demikian juga J. Gonda dalam Sanskrit in Indonesia, mengungkapkan bahwa Merdeka berarti lepas dari segala ikatan yang tidak layak (unsur negatif), sehingga menjadi bebas untuk menentukan nasib sendiri demi sesuatu yang baik (unsur positif). Sehingga Kemerdekaan bias diartikan sebagai kebebasan.
Kebebasan adalah anugerah dan sekaligus ciri kemuliaan manusia diantara seluruh makhluk Tuhan. Kebebasan merupakan suatu gagasan / konsep yang analog, artinya kebebasan direalisasikan secara fundamental berbeda menurut tingkat keberaaan (manusia, binatang, dll).
Kebebasan sendiri mempunyai arti keadaan bebas. Dalam Kamus Bahasa Indonesia kata dasar dari kebebasan mengandung beberapa makna, yaitu :
1.Lepas sama sekali (tidak terhalang, terganggu, dsb sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat, dsb dengan leluasa).
2.Lepas dari (kewajiban, tuntutan, perasaan, takut dsb).
3.Tidak dikenakan (pajak, hukuman, dsb).
4.Tidak terikat atau terbatas oleh aturan-aturan dsb.
5.Merdeka (tidak dijajah, diperintah atau dipengaruhi oleh Negara lain atau kekuatan asing)
6.Tidak terdapat (didapati) lagi
Arti kebebasan dapat dirumuskan secara negative dan positif :
a.Dalam arti negatif berarti bebas dari, misalnya bebas dari ikatan atau paksaan untuk bertindak, yang mengikat / memaksa itu dapat bersifat lahiriah atau materiil (mis. Belenggu) atau dapat bersifat batiniah atau psikologis (mis. Ancaman berat). Kebebasan psikologis atau berkehendak mengatakan bahwa manusia “mampu berkehendak seperti ia kehendaki”, maksudnya kehendak manusia dapat bertahan melawan halangan, paksaan ataupun larangan, sekurang-kurangnya dengan tidak berbuat .
b.Dalam arti positif manusia adalah “bebas untuk” berbuat sesuatu dan khususnya “bebas untuk berbuat baik”.
Kebebasan adalah suatu kemampuan positif, sehingga manusia dengan berbuat dan khususnya dengan berbuat baik (sekurang-kurangnya tidak berbuat jahat) merealisasikan diri menjadi orang yang baik. Inilah tanggung jawab manusia yang utama. Inilah tugas pokoknya. Inilah arti hidup manusiawi. Maka kebebasan untuk berbuat sesuai dengan keyakinan mengenai yang baik dan yang buruk adalah suatu hak asai manusia (kebebasan mengikuti suara hati), yang tidak diberi dan tidak dapat dicabut oleh orang lain, bahkan Negara pun tidak.
Indonesia merupakan Negara hukum. Maka kebebasan seorang warganegara Indonesia tidak boleh dibatasi oleh siapapun termasuk alat-alat pemerintahan selain dalam batas hukum yang berlaku. Azas kebebasan yang menjamin hak-hak dasar para warganegara dijamin oleh UUD 1945 pasal 27-29. walaupun dalam pasal-pasal tersebut hanya beberapa hak dasar ditentukan, namun kebebasan dalam Negara Pancasila harus disadari dan dijamin oleh Sila Perikemanusiaan dan Sila Keadilan. Sebab, UUD 1945 mendasarkan juga kebebasan internasional atas dua sila tersebut : “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan per-keadilan”.
Perlu dipahami bahwa nilai yang paling hakiki bagi manusia, adalah kebebasan. Dan kebebasan itu pula yang membedakan manusia dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Akal pikiran sebagai anugerah dan aset Illahiyah menyebabkan manusia mempunyai kebebasan, sebuah ciri yang khas dari makhluk lainnya. Dalam Al-Qur’an Surat Al Ma’idah ayat20 dijelaskan :
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat lain”.
Hanya saja, banyak orang tidak memahami, dan tidak mengerti secara mendalam hakekat kebebasan tersebut. Mereka menganggap bahwa kebebasan berarti “lepas tanpa ikatan”, sesuatu yang keluar begitu saja, tanpa merasa ada kendala apapun. Sehingga dia boleh semaunya bertindak dan berbuat hanya mengikuti kemauannya sendiri (gugu karepe priyangga / sak karepe udele).
Kebebasan tanpa keterikatan, sama saja dengan binatang yang bergerak lepas menurut insting atau naluri alamiahnya, berbuat sebagaimana adanya, tanpa merasa terikat, tidak mempunyai akal pikiran, tidak mampu membedakan benar dan salah atau rasa susila. CEM. Joad dalam bukunya Philosophy mengatakan “Everything and every creature in the world expect man acts as it must, or acts as it pleases; man alone acts on occasion as ought”(Segala sesuatu serta makhluk yang diciptakan di dunia ini, selain manusia, bertindak sebagaimana yang diharuskannya atau bertindak menurut kesenangannya, sedangkan manusia sajalah yang bertindak sebagaimana seharusnya).
Dengan demikian, manusia menjadi manusia karena keterikatannya dan sekaligus mampu mengendalikan dan mengerti keterikatannya tersebut. Jean Jackues Rosseau mengungkapkan “ Manusia dilahirkan merdeka (bebas), tetapi dimana-mana dia terbelenggu”. Dalam hal ini, yang kita maksudkan dengan belenggu atau keterikatan tidak lain adalah tanggung jawab.
Pokoknya, manusia disebut bebas selama dia terikat, ada komitmen untuk bertanggung jawab. Winston Churchill (1874-1965) negarawan inggris, seorang orator ulung, berkata : “The prince of greatness is responsibility” (mahkota kebesaran adalah tanggung jawab). Manusia tidak mungkin melepaskan diri secara bebas dari berbagai kondisi yang mengikat dirinya, apakah dalam bentuk kondisi biologis, sosiologis, terlebih lagi ikatan kondisi theologies, keyakinan dan keimanan. Karena manusia pada dasarnya adalah makhluk Illahi yang sadar akan keIlahiannya.
Harus dipahami bahwa sisi lain dari makna tanggung jawab adalah bentuk keterikatan manusia di tengah-tengah keberadaannya di dunia. Tetapi janganlah digambarkan bahwa terikat itu seperti seorang pesakitan atau penjahat yang diborgol tangannya.
Yang dimaksud dengan keterikatan di sini, adalah kesadaran manusia atas keterbatasannya. Dia sadar bahwa ada batas-batas yang menyempitkan ruang geraknya, kemauannya, ambisinya dan impiannya. Tetapi dia juga sadar bahwa keterbatasannya tersebut harus diatasi, diarahkan serta dihayati dalam misinya untuk mengisi dan memberi makna hidupnya yang sejati.
Manusia yang bertanggung jawab merasakan bahagia justru karena ada ikatan. Ada komitmen atau dalam istilah agama dikenal sebagai aqidah (aqad = keterikatan, janji, kesepakatan) yang melahirkan berbagai kaidah kehidupan yang mengatur manusia agar dia mampu hidup selaras, serasi dan sehati dengan orang lain.
Dia sadar bahwa dengan adanya ikatan itulah, justru dia merasa menjadi manusia. Dia sadar bahwa dirinya bukanlah binatang yang bebas untuk bebas, melepaskan segala hajat tanpa ada ikatan, tanpa merasa ada sanksi atau kendali-kendali moral. Manusia memang bebas untuk menyatakan kemamuannya, tetapi tentu saja dia pun sadar bahwa dia tidak bisa berbuat semau-maunya. Karena adanya keterbatasan yang membawa resiko kepada dirinya tersebut.
Makna kebebasan sejati mengantongi kewajiban-kewajiban serta tanggung jawab yang membedakan diri manusia dari segala makhluk yang ada. Binatang tidak mengenal kewajiban, karenanya tidak mempunyai tanggung jawab. Seluruh tindakannya adalah insting, sebuah tindakan alamiah, bukan sesuatu yang disengaja, bukan tindakan yang diarahkan secara sadar oleh pikiran dan segenap hati nuraninya. Karena binatang tidak dilengkapi potensi tersebut.
Dalam Islam telah jelas bahwa manusia dipersilahkan untuk menggunakan anugerah kebebasan untuk mencari apa yang telah menjadi karunia Allah di muka bumi ini, setelah manusia tersebut menjalankan kewajibannya beribadah kepada sang Pencipta. Al-Qur’an Surat Al-Jumu’ah ayat 10, memaparkan hal tersebut :
“Apabila telah ditunaikan Shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya beruntung”.
Dengan demikian, makna kebebasan ini berakar dalam kebebasan rohani manusia yaitu sejauhmana dia mampu menguasai dan patuh terhadap hati nuraninya sendiri, terhadap pikiran dan kehendaknya. Seseorang bisa merasakan kebebasan, selama dia bebas untuk menentukan sikap dan tanggung jawabnya. Dia menjadi bebas karena setiap keputusan, pikiran dan tindakannya berasal dari jeritan nuraninya yang kemudian dia nyatakan dengan sadar, tidak dibuat-buat (artificial). Frederick Nietzche, mengatakan : “If you would go high, use your own legs. Do not let your selves be carried up, do not sit on the backs and heads of others” (Kalau ingin menjulang tinggi, gunakanlah kakimu sendiri. Jangan biarkan dirimu dijunjung orang, jangan kau duduk di atas punggung dan kepala orang lain.
Akar kebebasan adalah kemampuan manusia untuk menetukan dirinya sendiri. Kemampuan mengambil tempat dan mengambil keputusan-keputusan tanpa merasa ada hambatan atau tekanan dari pihak luar.
*********
Posted by
Robby Zunaidy
at
3:28 PM
0
comments
Ekspresikan Dirimu Dengan Organisasi
“Ingatlah selalu bahwa kamu tidak hanya mempunyai hak untuk menjadi seorang individu.
Adalah tugasmu untuk menjadi seseorang “
(Eleanor Roosevelt)
Perumpamaan yang pas tentang pentingnya berorganisasi / berjama’ah pernah disampaikan Rasulullah saw. Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi dari Muadz bin Jabal, beliau bersabda, ”Sesungguhnya setan itu serigala bagi manusia, seperti serigala bagi kambing, ia akan menerkam kambing yang keluar dan menyendiri dari kawanannya. Karena itu, jauhilah perpecahan, dan hendaklah kamu bersama jama’ah dan umat umumnya.”
Dari kedua ungkapan diatas bisa ditarik garis merah, bahwa setiap individu harus bisa menjadi diri kita sendiri, tidak harus dengan cara egois. Tapi potensi yang kita miliki akan lebih baik jika ditumpahkan dalam sebuah wadah jama’ah atau yang biasa disebut organisasi. Sehingga apa yang kita miliki akan dapat dilengkapi dengan ilmu dari orang lain. Dengan kata lain kita dapat menunjukkan kemampuan yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada kita semua, dengan cara mengekspresikan potensi yang ada dalam berbagai organisasi.
Untuk mengekspresikan diri diorganisasi tidak cukup dengan hanya kita nibrung sejenak, datang jika kita sempat dan datang jika ada kegiatan besar. Tapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengekspresikan diri diorganisasi, antara lain:
1.Menata Niat
Ada sebuah Hadits Nabi yang menyatakan bahwa segala amal perbuatan tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang diniatkannya. Setiap amal yang baik dan bermanfaat, apabila dilakukan dengan niat yang baik disertai dengan keikhlasan, mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala akan menjadi suatu ibadah. Begitu juga dalam berorganisasi sangat perlu kita menata niat, untuk apa kita terjun dalam organisasi yang kita inginkan. Karena niat tersebut secara tidak langsung akan mempengaruhi kinerja dan loyalitas dalam berorganisasi.
2.Bidik Tujuan
Tujuan merupakan sesuatu yang ingin dicapai yang bermanfaat bagi peningkatan kualitas. Dalam menentukan tujuan dalam berorganisasi kita harus memperhatikan sistem SMART, yaitu :
Specific (spesifik), dimana harus menggambarkan secara tepat tujuan yang ingin dicapai.
Measurable (dapat diukur), setiap tujuan yang ditetapkan bisa dicapai dengan memonitor langkah prosesnya.
Attributable (sikap), punya sikap dalam meraih tujuan. Fokuskan tujuan itu dengan meluangkan waktu untuk mencapainya.
Realistic (realistis), pastikan tujuan itu realistis bukan hanya sekedar angan-angan.
Time Limit (batas waktu), tentukan batas waktu kapan ingin mencapai tujuan tersebut.
3.Mengendalikan Diri
Dengan niat dan tujuan yang bersifat pribadi, maka untuk terjun ke organisasi sangat perlu kita mengendalikan diri. Prinsip utama yang perlu kita perhatikan untuk belajar melakukan kendali diri adalah prinsip untuk hidup seimbang. Orang yang hidupnya seimbang adalah orang yang bisa mengendalikan aspek emosi, aspek pikiran, dan aspek fisik. Agar usaha pengendalian emosi, pikiran, dan fisik berhasil maka kita perlu menerapkan strategi kendali diri sebagai berikut :
Disiplin Diri
Jika kita sudah mampu mendisiplinkan diri kita sendiri, maka dengan sendirinya kemampuan kita akan lebih baik. Kita pun bisa lebih baik dalam mengatur waktu untuk beraktivitas diorganisasi lebih cerdas.
Motivasi Diri
Dorongan atau motivasi dari dalam diri sendiri muncul karena keinginan ataupun harapan yang kuat untuk meraih sukses. Jadi, temukan harapan atau keinginan yang kuat, yang pencapaiannya bisa membuat kita menitikkan air mata bahagia.
Dorongan atau motivasi dari luar bisa datang dari seseorang / orang lain, dari sebuah peristiwa ; kegagalan, kesuksesan.
Percaya Diri
Jika kita sendiri tidak percaya bahwa kita mampu berorgaisasi, bagaimana kita bisa meyakinkan orang lain untuk ikut mendukung dalam organisasi. Pada saat orang lain percaya kepada kita, maka akan mudah bagi kita untuk membangun kerja sama dalam berbagai hal. Rasa percaya diri bisa kita pupuk dengan melakukan perencanaan yang tersusun secara sistematis, kita juga bisa meningkatkan kepercayaan diri dengan senantiasa mengembangkan kemampuan.
Pengembangan Diri
Keinginan untuk selalu mengenbangkan diri, merupakan salah satu faktor kunci dalam memupuk kemampuan kita mengendalikan diri. Yang terpenting kita harus selalu mengembangkan diri secara terus menerus agar bisa memupuk rasa percaya diri yang tinggi, dan membuat orang menaruh kepercayaan. Banyak sekali sumber yang bisa kita manfaatkan untuk mengembangkan diri, kita bisa belajar dari pengalaman diri sendiri dan pengalaman orang lain.
4.Lalui Setiap Proses Yang Terjadi
Dalam berorganisasi hendaknya kita harus masuk dalam sistem dan siap mengikuti segala proses yang ada, jangan sampai kita melawan proses atau berhenti ditengah proses. Karena jika itu terjadi, apa yang sudah kita niatkan, yang sudah kita bidik tujuan dan pengembangan diri akan sia-sia belaka tanpa hasil apapun. Ikuti prosesnya dari awal hingga akhir. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam berproses diorganisasi, yaitu :
Mulai dari bawah
Dalam melakukan segala hal kita harus melalui awalan atau dari bawah. Jadi dalam berorganisasi juga kita harus bisa melalui proses dari bawah. Maksudnya kita harus paham seluk beluk kegiatan / tugas mulai dari tingkat bawah. Dengan demikian jika nantinya kita berada dipucuk pimpinan tidak akan seenaknya terhadap tugas dibawah, karena kita sudah tahu lika-liku, susah payahnya tugas di bawah. Misalnya mulailah dengan tugas yang kecil dan remeh tapi sangat berpengaruh pada roda organisasi, contohnya menjadi kurir undangan.
Ikuti aturan main
Setiap lembaga, organisasi, atau wadah apapun pasti mempunyai aturan dan prosedur dalam menjalankan kegiatan. Jadi, sebagai orang yang aktif dalam organisasi hendaknya kita harus mematuhi aturan / tata tertib yang ada dalam organisasi tersebut. Karena jika demikian, kita akan dapat melaksanakan segala potensi yang kita miliki dengan leluasa tanpa ada hambatan apapun. Lain halnya jika kita menyalahi aturan, maka apa yang kita miliki tidak akan berharga di hadapan anggota organisasi.
Akui perbedaan
Kita masuk dalam organisasi, awalnya adalah seorang individu, namun jika sudah didalam organisasi identitas kita sebagai individu harus ditanggalkan, karena dalam berorganisasi adalah peleburan setiap individu menjadi kesatuan yang sangat kokoh. Apa yang kita bicarakan bukan hanya kepentingan pribadi kita sendiri tapi sudah menyangkut kepentingan semua anggota organisasi. Maka dalam berorganisasi kita harus bisa menerima dan mengakui perbedaan yang ada, karena dengan perbedaan tersebut akan muncul berbagai macam pandangan yang bisa sebagai modal untuk kelangsungan kegiatan dalam berorganisasi.
5.Terus Ekspresikan Diri Dalam Organisasi
Setelah kita lalui semua hal diatas, maka secara tidak langsung kita sudah dapat mengekspresikan diri diorganisasi. Dengan demikian kita sudah menancapkan satu modal dalam diri kita untuk menambah potensi diri dibidang organisasi. Secara tidak langsung potensi diri kita tersebut akan diperhatikan oleh banyak kalangan, sehingga banyak orang yang menilai lebih terhadap kemampuan kita. Maka bersiap-siaplah untuk menjadi orang yang sangat dibutuhkan oleh orang lain. Jika anda sudah selesai melaksanakan amanah dalam satu organisasi maka lanjutkan pengalaman tersebut untuk pengembangan organisasi yang lain. Feel The Passion.
Posted by
Robby Zunaidy
at
3:19 PM
0
comments
Thursday, December 24, 2009
OTAK KANAN
Banyak persoalan hidup ternyata tidak semua disikapi dengan marah, jengkel, stress. Namun banyak pula inspirasi dari kondisi tersebut. Tidak semua orang menyangka kendala menjadi peluang. Jika persoalan meningkat bagi orang berotak kanan menjadi peluang. Persoalan hi...dup hanyalah teman pemberi inspirasi. Kehidupan manusia sebagian besar didominasi oleh otak kiri. Namun bukti mengatakan banyak persoalan hidup tidak cukup diselesaikan dengan mengandalkan otak kiri. Kita lupa dengan otak kanan. Selama ini pendayagunaan otak manusia hanyalah otak kiri.
Sementara ada bagian otak kanan cenderung terabaikan. Dari otak kanan munculah kecerdasan, yaitu enam kecerdasan. Seperti apa dan bagaimana otak kanan ? Di masa mendatang, tampaknya generasi anak bangsa selain menguasasi otak kiri juga perlu melengkapi dan dilengkapi dengan enam kecerdasan. Keenam kecerdasan ini digali dari potensi otak kanan. Keenam kecerdasan tersebut dinamakan high concept, high touch mampu mengembangkan sebuah pemikiran dalam masyarakat sungguh-sungguh baru. Keenam kecerdasan tersebut digagas oleh Daniel H. Pink. Dalam bukunya berjudul “Misteri Otak Kanan Manusia” diuraikan tentang keenam kecerdasan tersebut. Kecerdasan “tidak hanya fungsi tetapi juga DISAIN.” Kecerdasan ini bukan hanya menempatkan suatu penciptaan produk berdasar fungsinya semata tetapi juga memiliki nilai “value” personal, indah sedikit fantastis, serta memiliki emosional kuat. Seperti: menjual sepatu tetapi dengan lukisan tangan. Kecerdasan “tidak hanya argument namun juga CERITA.” Kemampuan analisis sebagai dasar memberi argumentasi kurang memadai tetapi perlu kemampuan menciptakan kisah-kisah menarik dalam konteks komunikasi persuasi. Kemampuan mengemas menjadi cerita menarik sangat dibutuhkan. Bukti: maraknya novel-novel dengan kekuatan cerita si penulis “meledak” Kecerdasan “tidak hanya fokus tepapi “SIMPONI.” Masa mendatang selain perlu untuk konsentrasi terhadap suatu hal tertentu perlu dilengkapi hal lain. Hal lain adalah kemampuan untuk mengkoneksikan berbagai hal baik memang memiliki hubungan dekat maupun hubungan jauh. Dari sini didapat suatu sudut pandang secara menyeluruh. Dan kemampuan mengkombinasikan berbagai hal. Seperti: penciptaan suatu produk dengan menggunakan bahan baku yang tidak lazim. Bakpo berbahan ketela. Kecerdasan “tidak hanya logika tetapi juga EMPATI.” Kepintaran manusia merupakan hal penting dalam kehidupan modern. Kemampuan berlogika mutlak dibutuhkan. Tetapi di era baru ini, kepedulian terhadap orang lain menjadi hal tidak kalah penting. Di tengah kemampuan logika namun sisi keberpihakan kepada orang-orang “lemah, kecil, dan papa” pelu di sosialisasikan. Misal: gerakan koin Prita terus menggelinding. Kecerdasan “tidak hanya keseriusan namun juga PERMAINAN.” Etos kerja berpengaruh terhadap produkstifitas. Namun jika etos kerja mengabaikan penurunan ketegangan berproduktif maka hasilnya kontraproduktif. Keseriusan perlu untuk mencapai produktifitas kerja namun perlu diimbangi dengan bersikap tenang, humor, permainan. Hal tersebut mempu memompa kesejahteraan. Perlu sedikit keluar dari rutinitas pekerjaan untuk mengendorkan ketegangan otak, hati dan emosi. Butki: jumlah orang mengalami ketegangan pikiran, stress terus meningkat. Kecerdasan “tidak hanya akumulasi tetapi juga MAKNA.” Kemajuan peradaban di tandai dengan penciptaan aneka kebutuhan hidup manusia. Semua itu bertujuan mempertahankan hidup dan kehidupan. Dari sekian banyak hal keberanian, kerelaan serta untuk memenuhi kebutuhan kebermaknaan tidak dapat dikesampingkan. Selain kebutuhan materi juga kebutuhan spiritual dan transendental menjadi hal penting di tengah arus modernitas. Contoh: meningkatnya jumlah orang bunuh diri termasuk generasi anak bangsa karena hanya lupa ada kekuatan transendetal. Makin disadari bahwa otak kiri manusia sangat terbatas untuk memandang keseluruhan dinamika perdaban. Kesadaran untuk membangunkan otak kanan perlu segera dimulai. Generasi anak bangsa perlu sesegera mungkin diperkenanl dan dilatihkan “membangunkan otak kanan.” Goalnya karakter bangsa terbangun oleh para generasi anak bangsa berotak kanan.
Posted by
Robby Zunaidy
at
5:00 PM
0
comments
Thursday, September 17, 2009
MENJADI TERBAIK DENGAN MANFAAT
Sebaik-baik umat adalah yang bermanfaat. apa yg anda pikirkan ketika membaca atau mendengar kalimat tersebut?. sebuah kalimat yang tidak asing bagi orang islam. ya itu adalah hadits Rasulullah. kalau kita artikan maka, umat yg terbaik adalah umat yg mempunyai manfaat, atau kl pingin jadi yg terbaik maka berikanlah manfaat, dengan kata lainnya adalah MENJADI TERBAIK DENGAN MANFAAT. tentu saja yang namanya bermanfaat adalah orientasi umum.
terus refleksi dalam kehidupan kita apa?. hemm, ini yang menarik untuk kita bahas bersama.
Refleksi untuk pribadi
semangat "menjadi terbaik dengan manfaat" kalau direfleksikan untuk pribadi, maka bila kita menginginkan menjadi orang yg berhasil/terbaik berikan manfaat diri ini sebanyak mungkin untuk orang lain. semakin kita banyak memberikan manfaat, kita akan menjadi yang terbaik. kepercayaan, rasa hormat, banyak teman, wibawa, itu semua adalah hasil dari kemanfaatan yang kita berikan. dan yang luarbiasa meskipun kelak kita sudah meninggal, kita tetap dikenang, dipuji, didoakan oleh orang2, karena mereka merasakan kemanfaatan kita, bahkan kemanfaatan kita akan semakin tinggi walaupun sudah pensiun/meninggal. bung karno, bung tomo, dan pak noer (mantan gubernur jatim) mereka adalah contoh pribadi yg terbaik karena manfaat mereka. bung karno semasa hidupnya beliau berpikir keras dan bertindak hanya untuk kemanfaatan bangsa ini. karena kemanfaatannya beliau menjadi terbaik, dengan diangkat menjadi presiden RI yg pertama. apakah setelah bung karno meninggal kemanfaatannya menurun?oh tidak, malahan semakin tinggi. terbukti banyak partai maupun orang yg memakai dan mengagumi pemikirannya. demikian juga dengan pak noer. meskipun beliau sdh pensiun dan tua, tp kemanfaatanya semakin tinggi dibandingkan sblm pensiun. beliau msh bs diajak diskusi, aktif organisasi, meskipun sebagai penasehat. msh sering datang keacara-acara peresmian. pak noer juga msh dipandang berpengaruh dlm peta politik, dengan bukti dikunjungi cagub dan capres. kl dalam agama islam contoh yg pas adalah pribadi yg bernama Muhammad. semasa hidupnya beliau selalu memberikan manfaat untuk orang lain dengan berdakwah. sehingga beliau menjadi pribadi yg terbaik, dikenal dan dikenang sempai abad ini bahkan beliau di urutan pertama org yg berpengaruh sepanjang masa. oleh karena itu bila kita ingin menjadi pribadi yg terbaik, berikanlah manfaat sebanyak mungkin kepada orang lain. berpikir, bertindak, dan berbicara hanya yg bermanfaat untuk orang lain.
itu adalah refleksi semangat "MENJADI TERBAIK DENGAN MANFAAT" untuk pribadi. bagaimana kalau diterapkan dalam bisnis kita????
next script....
Fredy Prasetyo Wibowo
Posted by
Robby Zunaidy
at
9:07 AM
1 comments
Sunday, September 6, 2009
Memberi dengan Cinta, bukan dengan pamrih
Banyak orang mengeluh bahwa mereka hanya MEMBERI MEMBERI MEMBERI dan tidak pernah menerima apapun.
Jika Anda 'memberi' dan tidak 'menerima', bisa jadi karena Anda mengharapkan balasan. Lain kali, jika memberi sesuatu, tengoklah kembali motif yang Anda miliki. Apakah Anda memberi dengan tulus? jika tidak cobalah!
Saat Anda memberi tanpa mengharapkan balasan apapun, kehidupan akan menyirami serta menyuburkan Anda dengan banyak kesempatan.
Bukankah doa orang yang terkena bencana, teraniaya, yatim, fakir dan miskin akan dikabulkan oleh Allah SWT. Doa mereka adalah penjaga diri dan keluarga kita dari mara bahaya.
Maka ikhlaslah....Berilah manfaat kepada banyak orang....Biarkan Allah, Rasul dan orang-orang beriman melihat pekerjaan kita.
Salam sukses dan bermanfaat.....
Budi Wahyu Mahardhika
www.snfconsulting.com
Posted by
Robby Zunaidy
at
9:19 AM
0
comments
SEBUAH PENSIL
Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat .
"Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?" Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, "Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai." "Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti" ujar si nenek lagi.
Mendengar jawab ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai. "Tapi nek sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya." Ujar si cucu. Si nenek kemudian menjawab, "Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini." "Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini." Si nenek kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.
"Kualitas pertama, pensil mengingatkan kamu kalo kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya" .
"Kualitas kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik".
"Kualitas ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar"..
"Kualitas keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu".
"Kualitas kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan".
(by Paulo Coelho)
Salam Inspirasi
Irawan Senda
www.motivasihidup.com
Posted by
Robby Zunaidy
at
9:16 AM
0
comments
Sunday, August 30, 2009
The Power of Goal (Kekuatan Tujuan)
Dalam setiap perjalanan, kita tidak akan lepas dari proses penentuan tujuan. Bahkan, pada hal yang sederhana pun kita tetap harus menentukan tujuan. Inilah proses awal dimana kita mulai merancang harapan dan keinginan dari setiap proses kehidupan ini.
Kehadiran sebuah ilmu manajemen strategi adalah bagian dari upaya penguatan untuk membingkai kekuatan tujuan. Walaupun dalam banyak kesempatan banyak orang mendefinisikan tentang manajemen strategi yang kadang salah kaprah.
Manajemen startegi terdengar sebagai salah satu kata yang menghebohkan dalam komunitas bisnis. Hanya segelintir orang yang benar-benar tahu apa artinya dan setiap orang berupaya untuk memahami definisi saat mereka melewatinya. Don Hofstrand memberikan penjelasan yang paling sederhana, “Secara esensi, manajemen strategi menjawab pertanyaan ‘kemana Anda ingin mengarahkan bisnis Anda’ (tujuan), ‘bagaimana bisnis Anda bisa mencapainya’ (strategi) dan ‘bagaimana Anda tahu kalau sudah sampai’ (evaluasi).”
Dari penjelasan sederhana di atas sudah cukup memberikan kita sebuah informasi tentang peran penting dari sebuah tujuan. Penentuan tujuan adalah syarat mutlak untuk tercapainya sebuah pekerjaan, tanpa penentuan tujuan, akan biasa dipastikan bisnis, usaha atau apapun nama pekerjaan yang akan dilakukan akan mengalami kegagalan atau minimal mengalami disorientasi.
Sebagai muslim tujuan akhir setiap perbuatan dan pekerjaan yang dilakukan telah jelas arahnya. Sebagaimana yang Allah SWT terangkan dalam firman-Nya: “Tidak Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzaariyaat [51]:56). Sementara dalam firman lainnya, Allah terangkan manusia sebagai khalifah.
Inilah sesungguhnya garis tegas yang ingin Allah katakana kepada kita, bahwa tujuan penciptaan manusia adalah sebagai hamba dan khalifah. Peran ini mutlak tak biasa dilupakan. Lupa hakikat peran ini akan mengalami disorientasi dalam kehidupan.
Terakhir, kejelasan tujuan mutlak akan mengawal dan mengikat kita agar tidak lepas kendali. Seorang pilot akan sangat nyaman dan mudah jika rute pesawat telah jelas dan ditentukan, sama halnya jika tujuan dari sebuah lembaga telah dipastikan, Insya Allah sesulit apapun rintangan, akan mudah dicapai. Itulah kekuatan tujuan!* Wallahu’alam
bmhnews, edisi IX Juni 2009
Posted by
Robby Zunaidy
at
11:17 AM
0
comments
Saturday, August 29, 2009
THE POWER OF DREAM
Saya dan ratusan atau mungkin ribuan orang yang saya ajar kini telah menyadari bahwa sukes adalah pilihan. Kita memilih masa depan kita melalui impian dan pikiran kita hari ini. Carl Sandburgh mengatakan, "Tidak ada sesuatu jika tanpa diawali dari sebuah impian". Sebuah benda diciptakan manusia 2 kali, satu dipikirannya dan satu lagi di alam nyata.
Sejak SMP saya telah menggunakan brain power dan power of dream yang tanpa saya pelajari dari buku-buu milik ayah teman saya. Buku-buku itu akhirnya menjadi buku wajib bagi orang-orang bisnis jaringan. Pengalaman yang luar biasa ketika saya menerapkan brain power dan the power of dream adalah ketika saya memenangkan lomba karya tulis tingkat nasional di mana saya mendapat kehormatan bersalaman dengan Pak Harto dan para menterinya kala itu. Ketika saya punya impian yang besar saya menciptakan magnet dalam kepala saya yang menarik semua orang yang punya pemikiran yang sama. Dalam film the secret disebut sebagai the law of attraction.
Sejak itu dalam hidup saya mendapatkan banyak kemudahan. Saya 18 kali pindah kerja, 14 di antaranya adalah top management (manajer ke atas). saya yakin ini seua adalah bekat the power of dream dan brain power. Sampai saat ini saya telah menulis hampir 23 buku. Saya yakin ini juga hasil kerja the power of dream. Yang sampai sekarang belum terpecahkan oleh saya adalah bagaimana mungkin saya bisa menerbitkan 5 buku saya dalam waktu 2 bulan. It's the power of dream.
Saya punya banyak testimoni tentang the power of dream, dari diri saya sendiri, dari buku dan film yang saya baca/saksikan, dan dari peserta pelatihan saya yang jumlahnya mencapai angka puluhan ribu dari seluruh Indonesia. Saya telah mendengarkan kesaksian bagaimana seorang yang awalnya sulit dapat jodoh kini mudah, yang impiannya bisa teraih kurang dari sejam, yang mampu menghilangkan bisikan negatif akut yang hilang dalam waktu hitungan minggu, penyembuhan dalam hitungan jam, lebih mudah mengeluarkan setan dari tubuh manusia, memenangkan pemilihan legislatif, sampai seorang yang awalnya enci bahasa Inggris kini malah mendapatkan ranking 1 pada pelajaran bahasa Inggris setelah mempelajari brain power dan power of dream.
Kesaksian
Teman-teman.... saya sedang menulis buku The Power of Dream yang berisi teori dan kesaksian orang-orang sukses dengan the power of dream.... Buku ini buku ke 23 saya dan saya harus selesaikan bulan Ramadhan ini Insya Allah. Saya berpikir ini mungkin buku terbaik saya yang pernah saya buat.
Sehubungan dengan hal itu saya sangat berharap siapa pun anda, apakah pernah atau tidak pernah mengikuti pelatihan saya untuk membantu saya memberikan testimoni akan kekuatan sebuah impian. Mungkin, anda pernah menginginkan sesuatu dengan kuat dan akhirnya anda menerima atau mendapatkannya. Kalau anda tidak keberatan, buatlah cedrita sekitar satu halaman A 4 atau boleh kurang kepada saya melalui email saya bprakuso@yahoo.co.id. Saya sangat senang jika disertai foto. Saya akan memuatnya dalam buku saya nantinya. Karena buku saya akan melampirkan kesaksian mungkin dari ratusan orang yang ceritanya pernah saya dengar dan terbukti di mata kepala saya sendiri.
Untuk menyelesaikan buku itu saya telah mempelajari beberapa buku seperti ESP (extra sensory perception), Telephaty, six sence, meraga sukma, santet, dan buku lainnya agar teroi saya tentang impian terdukung secara ilmiah Pendapat saya tentang impian telah saya ujikan kepada para ustadz kiai, para normal, tabib dll. Sebagian besar mereka sepaham dan tidak menantang teori-teori pencapaian impian itu. Buku ini akan dipenuhi banyak gambar, huruf-huruf yang besar, testimoni, humor, motivasi, kuis, percobaan dll tentang pembuktian kekuatan pikiran dan impian.
bagi anda yang ingin mengirimkan pengalaman pribadinya tentang te power of dream ini silakan kirimkan ke bprakuso@yahoo.co.id. Kalau bisa sebelum ramadhan ini habis.
Terima kasih atas bantuannya.
salam
Bambang Prakuso
Posted by
Robby Zunaidy
at
12:37 PM
0
comments
Jadi Entrepreneur Santri, Ajiibb....
Mengapa pemuda yang mayoritas Islam di Indonesia harus berwirausaha? Sebuah pertanyaan yang seharusnya mulai dipikirkan dari sekarang bagi mereka yang mengaku pemuda. Perlu diketahui bahwa, pemuda Islam di Indonesia tidak banyak yang sepak terjangnya di dunia wirausaha. Padahal, kita tahu ranah wirausaha ini merupakan area yang cukup strategis apabila kita ingin bersaing dengan negara lain . Namun, sayang peluang ini masih belum cukup baik dilihat oleh pemuda Islam di Indonesia.
Ir. Ciputra dalam Koran Bisnis Indonesia menyatakan : "Indonesia butuh banyak entrepreneur kalau ingin maju. Sekarang ini, jumlah pengusaha Indonesia hanya 0,18 % dari jumlah penduduk padahal di negara maju minimal 2 % jumlah pengusahanya. Bandingkan dengan Singapura yang mempunyai jumlah entrepreneur sekitar 8 % dari jumlah penduduk."
Jumlah pengusaha muslim yang ada saat ini hanya sekitar 118,8 ribu orang dari 220 juta penduduk. Bandingkan dengan jumlah penduduk non-muslim yang hanya berjumlah 10-20% dari jumlah penduduk (22-44 juta) tetapi dapat menguasai 70% dari jumlah total pengusaha Indonesia, yaitu 277,2 ribu orang. Kalau Head to Head (bersaing) maka kualitas sumber daya manusia non muslim dalam menumbuhkan kinerja ekonomi adalah 1 : 21 kualitas sumber daya manusia muslim. Maka, jangan heran jika masyarakat Tionghoa dan non-muslim kehidupannya jauh lebih makmur dari masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim. Ini merupakan alasan utama, mengapa pemuda Islam di Indonesia harus berwirausaha.
Jadi jumlah entrepreneur muslim di Indonesia hanya berjumlah 0.054% atau jumlahnya sekitar 118,8 ribu orang. Sekarang pertanyaannya, berapa persen ya entrepreneur yang santri? Entrepreneur yang selalu berjuang untuk ekonomi umat dan tidak lupa zakat :). Berapa ya? Mohon hitung sendiri ya he..he :p. Mari kita selalu Pro Rakyat, Lanjutkan yang baik, dan Lebih cepat lebih baik dalam beramal. Anda siap jadi entrepreneur santri ?
Salam Sukses dan Bermanfaat
Budi Wahyu Mahardhika
Business Development Head pada SNF Consulting
http://www.snfconsulting.com/
Posted by
Robby Zunaidy
at
12:25 PM
0
comments
Sunday, August 9, 2009
MENGELOLA ASET DUNIA - INGAT SEBELUM AJAL MENJEMPUT
Aset adalah sumber-sumber ekonomi yang kita kuasai yang memberikan manfaat ekonmis dimasa datang bagi pemiliknya. Dari sisi manusia, seringkali kita menganggap bahwa aset kita adalah istri/suami, anak, rumah, tanah, kendaraan, jabatan dan kedudukan/status serta lainnya. Kita tidak pernah membayangkan itu semua hanyalah pinjaman. Tanpa kita sadari, aset tersebut sering membawa manusia itu lupa atau menjadi tidak ingat sama penciptanya.
Manuasia sebagai ciptaan Allah tentu saja tidak berhak meklaim apa yang mereka miliki dan kuasai dianggap sebagia asetnya. Semua yang kita miliki di dunia ini hanyalah pinjaman dari penciptanya. Sebagai pinjaman tentu saja setiap waktu aset tersebut akan dikembalikan atau kalau kita tidak amanah dalam mengelolanya tentu pemiliknya tidak akan mempercayai kita lagi. Akhir sebagaimana yang kita duga, aset tersebut dapat ditarik sewaktu-waktu pada saat kita tidak ingin melepaskan aset tersebut. Disamping itu, aset dapat diambil secara paksa oleh pihak lain dengan cara ilegal.
Dua hari yang lalu, teman saya seprofesi menyatakan bahwa ada dua aset yang tidak mungkin diambil oleh orang lain yaitu ilmu yang dikuasai (gelar doktor) dan jenjang jabatan akdemik (sampai professor). Aset lainnya dapat ditarik oleh pihak lain, seperti jabatan misalnya. Tetapi aset ilmu tidak mungkin dicuri oleh orang lain. Begitu juga dengan jenjang jabatan akademik (profesor), tidak mungkin jabatan ini dicopot oleh pihak lain (kecuali terlibat kasus asusila dsb/melanggar undang-undang). Pendapat teman saya ini hampir sama dengan nenek saya. Semasa beliau masih hidup, saya seringkali dinasehati oleh beliau, termasuk juga kakak dan adik-adik saya. Nasehat beliau adalah tuntutlah ilmu sampai akhir hayat. Hanya ini yang dapat digunakan sebagai bekal hidup. Harta melimpah dan jabatan yang tinggi tidak akan kekal di dunia ini, sewaktu-waktu hal itu bisa dicuri, atau habis karena bencana, atau jabatan dicopot oleh atasan dan lainnya. Akan tetapi, ilmu tidaklah dapat dicopot oleh siapapun kecuali oleh ALLAH, ia tidak dapat dicuri oleh manusia manapun, hanya Allah lah yang maha kuasa dapat melakukan pencopotan ilmu itu dari kita. Saya tambah kan lagi aset lain yang kita miliki yang dapat kita bawa sampai akhir hayat adalah amal ibadah kita.
Saya prihatin melihat manusia dengan serakah dan tampa belas kasihan sesama nya, berusaha dengan segala cara untuk mengejar, menguasai harta dan jabatan di dunia ini. Mereka tidak peduli dengan orang-orang disekelilingnya. Ia merasa bahwa semua yang ada haruslah ia kuasai. Ia merasa bahwa ia akan hidup selamanya. Ia merasa bahwa ia-lah yang benar sehingga dengan mudahnya ia membalikan fakta yang ada, yang benar dikatakan salah, dan salah dikatakan benar. Setiap permasalahan selalu ia tempatkan diri nya sebagai orang benar, yang lain terutama orang yang tidak ia senangi dan dianggap sebagai pesaing ditempatkan sebagai pihak yang selalu salah. Allah Maha Tahu dan Maha Melihat. Orang-orang itu merasa banwa hanya dialah yang berhak dan pantas untuk memiliki aset dan jabatan itu, meskipun harus menimbulkan korban, kepedihan dan derita jiwa dan raga bagi orang disekelilingnya. Namun ia tidak akan peduli. Sekali lagi "Tidak Akan Peduli". Perjalanan hidup yang telah dilalui oleh penulis telah memberikan pelajaran buat saya dan lainnya, bagaimana Allah memberikan suatu pelajaran buat orang seperti ini dengan memberikan ganjaran yang setimpal atas perbuatannya selama yang bersangkutan masih hidup. Orang yang tersakiti oleh perbuatan kita tanpa kita sadari keluhananya di dengar oleh Allah. Allah akan segera mengabulkan doa-doa dari orang yang teraniya. Ganjaran yang diberikan oleh Allah dapat berupa: datangya penyakit bagi mereka yang menghabiskan harta benda yang telah dikumpulkan selama ini, terlibat kasus diluar kendali mereka sehingga ia direndahkan dan dicomohkan oleh orang sekelilingnya, hukum karma perbuatan yang telah ia perbuat selama ini.
Dalam hidup hanya satu yang dicari yaitu menjalani hidup dengan keberkahan dan keridoan dari Allah. Carilah rezeki yang halal. Hiduplah dalam kedamaian tanpa kebencian. Hiduplah tanpa membuat orang lain menjadi tertekan dan menderita karena perbuatan kita (baik kita sadari ataupun tidak). Hiduplah dengan penuh kasih sayang dan saling menghargai. Hiduplah dengan mengganggap bahwa manusia dimata Allah hanya dibedakan dari sisi keimanannya bukan dari status sosialnya, harta nya, dan jabatannya. Lebih baik kita dalam posisi di aniaya daripada posisi menganiaya orang lain. Lebih baik kita membantu orang lain daripada kita minta bantuan orang lain. lebih baik kita tidak menyimpan dendam pada orang lain meskipun orang itu telah menyakiti dan membuat kita tidak nyaman serta membuat orang disekeliling kita tidak mengangap kita sebagai manusia lagi. Allah lah yang pantas memberikan derajat buat kita. BUKAN MANUSIA. Alllah yang pantas memberikan ketenangan hidup buat kita, bukan BOS atau manusia lainnya yang memberikan ketenangan tersebut. ALLAH lah yang pantas memberikan ganjaran bagi orang-orang yang telah berbuat zalim kepada kita, bukan kita yang pantas menghukum mereka. ALLAH lebih adil dan pantas mengganjar manusia-manusia yang telah dengan seenaknya dan pongahnya bahwa ia lah yang pantas berbuat semuanya dan BENAR. Nauzubillah bin Zalid... Ya Allah semoga kita dapat dihindarkan dari perbuatan seperti mereka.. tunjukkan jalan yang benar buat mereka dan bimbinglah kita selalu menjalani kehidupan ini sesuai ridhomu ya ALLAH.
Tulisan ini tentulah hanya sekedar untuk memberikan sekilas tentang bagaimana kita seharusnya memperlakukan apa yang kita miliki dan kita tidak berhak menghakimi orang lain.... semoga bermanfaat... dan kebenaran hanya ada pada ALLAH semata, sedangkan ketidakbenaran hanya selalu ada pada diri kita sebagai hambanya. Kebenaran itu tidak akan pernah ada pada diri manusia yang zalim dan serakah...
from Sparta Gale
Posted by
Robby Zunaidy
at
9:52 AM
0
comments
PERIHAL KEMATIAN
Akhir-akhir ini Allah sangat menyayangi kita. Berkali-kali, berkali-kali kita diingatkan perihal kematian dengan meninggalnya orang-orang besar di antara kita : Michael Jackson, Mbah Surip, WS Rendra. Orang-orang dengan karya-karya besar & fenomenal yang akan selalu dikenang. Banyak sekali hikmah yang dapat kita ambil dari kisah hidup & kematian mereka.
Kita diingatkan untuk mensyukuri nikmat iman dan nikmat sehat yang Allah berikan kepada kita. Kita diingatkan untuk mensyukuri karunia kehidupan yang Allah berikan kepada kita (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?). Karena sungguh, kehidupan di dunia ini hanyalah persinggahan sementara yang sangat singkat. Kita tidak pernah tahu kapan malaikat maut akan datang menjemput. Dia tidak hanya mendatangi orang-orang di ranjang-ranjang kematian di rumah sakit, tidak hanya pada orang-orang tua berumur 60, 70, atau 80 tahun. Dia bisa datang kapan saja, dimana saja dan pada siapa saja. Dia bisa mendatangi kita 50 tahun lagi, tapi dia juga bisa mendatangi kita hari ini, atau mungkin besok.
Kalau teman-teman ingat pada tragedi pengeboman di Marriott & Ritz Carlton kemarin, saya yakin orang-orang yang menjadi korban itu adalah orang-orang muda yang sehat, yang masih punya impian dan karya-karya yang belum sempat mereka wujudkan.
Pada karunia kehidupan yang Allah berikan kepada kita ini, apa yang sudah kita lakukan untuk mensyukurinya? Karya apa yang sudah kita persembahkan?; Manfaat apa yang sudah kita berikan pada orang-orang di sekitar kita, kepada umat manusia, kepada dunia?
Izinkan saya untuk mengutip karya seorang besar yang juga telah meninggalkan kita, Alm. Pramoedya Ananta Toer, dari salah satu masterpiece-nya, Tetralogi Pulau Buru:
“Kau tidur dengan damai di sini, guru! Betapa sederhananya mati. Dan semua akan bertemu dalam kedamaian dalam alam mati, tidak peduli raja, tidak peduli budaknya, tidak peduli algojo dan tidak peduli kurban-kurbannya, tidak peduli Rientje de Roo, dan tidak peduli kaisar yang sekuasa-kuasanya. Betapa sederhananya mati. De Lange memilih mati. Berapa tahun lagi aku harus berkumpul denganmu, guru? Tapi aku masih hendak mencapai sesuatu. Sesuatu!” ….. Kata-kata Pangemanann di depan makam RM Minke (Rumah Kaca – Pramoedya Ananta Toer)
Saat kematian datang menjemput, tidak peduli raja, tidak peduli budak, tidak peduli kaya, tidak peduli miskin, semua sama. Hmmh mungkin tidak persis sama, mungkin jumlah pelayat & jumlah karangan bunga seorang raja dengan seorang budak tidak sama. Nisannya mungkin tidak sama, yang satu terbuat dari marmer, yang satu hanya dari kayu sederhana. Tapi saat tanah menutupi jasad yang telah mati, semua sama. Semua sendiri. Tak ada kawan, tak ada lawan. Tak ada kekasih, suami, istri, atau anak tercinta yang akan menemani. Tak ada harta benda, tak ada tahta dan tak ada hutang yang akan mengejar & menyertai di liang lahat. Hanya ada tanah, ulat-ulat, serangga, dan 3 hal yang akan menjadi kawan abadi:
1. Amal jariyah
2. Ilmu yang bermanfaat
3. Doa anak yang soleh
………
From Facebook Ajeng Sukmawati
Posted by
Robby Zunaidy
at
9:48 AM
0
comments
BUKAN HASIL TAPI LIHATLAH PROSES (Mbah Surip)
Setiap orang mudah dan bisa menilai kesuksesan seseorang dengan hanya melihat hasil fisik yang melekat pada seseorang secara langsung tanpa peduli melihat bagaimana seseorang meraihnya.
Sukses = Kesempatan + Persiapan
Kesempatan terkadang tidak bisa datang dua kali. Oleh karena itu, kita harus mempersiapkan diri semaksimal mungkin sehingga ketika kesempatan itu ada kita mampu meraihnya. Tetapi jangan lupa, kita juga harus bertawakal kepada Allah karena dalam meraih kesempatan ada yang berhasil tapi tidak sedikit yang gagal meraihnya. Gagal...gagal...gagal berulang kali hingga Allah memberikan ketetapannya dan akhirnya sukses...
Hanya cinta....
Hanya cinta terhadap profesi sehingga kita mampu bertahan....
dan...
Bila kita sudah cinta....maka duit dan kemampuan akan datang dengan sendirinya.....
Mbah Surip contohnya...
Mungkin banyak yang bilang Mbah Surip begitu mudah mendapatkan rezeki..(83 Milyar) -kalau ga lihat prosesnya pasti bilang begitu... Tapi lihatlah....
Lagu tak gendong adalah bikinan tahun 1980-an. Pada jaman itu, lagu tersebut di tolak oleh semua produser. Jadi butuh lebih dari 20 tahun mbah Surip meyakinkan para produser agar lagunya masuk rekaman. Bila tidak ada kecintaan terhadap profesi, tentu saja Mbah Surip tidak akan terkenal seperti sekarang ini....
Memang kerja Tuhan misterius, Dia punya cara sendiri untuk bekerja bagaimana orang yang dikehendakinya sukses....
Ada 3 buah pelajaran yang kita dapat dari proses meninggalnya Mbah Surip :
Pertama, Kesuksesan hidup bisa datang kapan saja, walau menjelang kematiannya di usia tua.
Kedua, Kematian bisa datang kapan saja, walau di puncak kesuksesan hidupnya. (Masih ingat mojang Bandung yang bernama Nike Ardilla, dia meninggal dunia saat masih muda di puncak kesuksesan)
Yang terakhir... Kesuksesan tidak selalu bisa dinikmati hasilnya, namun proses menuju sukses lebih memberikan kenikmatan bagi pelakunya. (Mbah Surip ketika meninggal baru mendapatkan 10 juta rupiah sebagai uang muka dari hasil rekamannya)
Selamat jalan Mbah Surip semoga amal ibadahnya di terima oleh Allah SWT. I love you Full....
Budi Wahyu Mahardhika
http:/www.snfconsulting.com
Posted by
Robby Zunaidy
at
9:36 AM
0
comments
